Perbedaan Herpes dan Sifilis serta Ciri-Ciri Lukanya

Klinik Apollo – Herpes dan sifilis sama-sama termasuk infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyerang area genital. Keduanya juga dapat menyebabkan luka atau lesi pada kulit sehingga terkadang sulit di bedakan hanya berdasarkan penampilan.
Padahal, herpes dan sifilis merupakan 2 penyakit yang berbeda. Herpes di sebabkan oleh herpes simplex virus (HSV), sedangkan sifilis di sebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Keduanya membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang berbeda. Oleh karena itu, jangan langsung menyimpulkan jenis infeksi hanya berdasarkan bentuk luka.
CDC menyebutkan bahwa diagnosis hanya berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik sering kali tidak cukup akurat untuk kasus luka genital.
- Apa Perbedaan Herpes dan Sifilis?
- Ciri-Ciri Luka Herpes Genital
- Bagaimana bentuk luka herpes?
- Ciri-Ciri Luka Sifilis
- Apakah luka sifilis bisa hilang sendiri?
- Perbedaan Luka Herpes dan Sifilis
- Gejala Herpes Selain Luka
- Gejala Sifilis Berdasarkan Tahapannya
- Apakah Herpes dan Sifilis Bisa Muncul Bersamaan?
- Bagaimana Cara Membedakan Herpes dan Sifilis?
- Apakah Herpes dan Sifilis Bisa Disembuhkan?
- Apakah Herpes atau Sifilis Berbahaya?
- Kapan Harus Memeriksakan Luka di Area Genital?
- Penanganan Herpes dan Sifilis di Klinik Apollo Jakarta
- Kesimpulan
Apa Perbedaan Herpes dan Sifilis?
Perbedaan paling mudah di kenali terdapat pada bentuk luka dan karakter gejalanya, meskipun terdapat variasi pada setiap pasien.
Perlu di ingat bahwa gambaran tersebut merupakan karakteristik umum, bukan alat diagnosis mandiri.
Sifilis primer, misalnya, dapat memiliki luka yang tidak khas, sedangkan herpes juga dapat menimbulkan gejala ringan yang menyerupai masalah kulit lainnya.
Ciri-Ciri Luka Herpes Genital
Herpes genital di sebabkan oleh HSV-1 atau HSV-2.
Infeksi ini sering kali tidak menimbulkan gejala atau gejalanya sangat ringan sehingga tidak di sadari.
Ketika gejala muncul, salah satu ciri yang paling khas adalah lepuhan kecil berisi cairan di sekitar:
- Penis atau vulva.
- Vagina.
- Area kemaluan.
- Bokong.
- Anus.
- Area sekitar genital lainnya.
Lepuhan tersebut dapat pecah kemudian berubah menjadi luka terbuka yang terasa nyeri.
Sebelum luka muncul, sebagian orang merasakan kesemutan, gatal, terbakar, atau rasa tidak nyaman di area tersebut.
Bagaimana bentuk luka herpes?
Secara umum, perjalanan luka herpes dapat berupa: Benjolan kecil → lepuhan berisi cairan → lepuhan pecah → luka atau ulser yang nyeri → sembuh.
Pada episode pertama, penderita juga dapat mengalami demam, nyeri tubuh, sakit kepala, atau pembengkakan kelenjar getah bening.
Episode berikutnya biasanya lebih ringan dan lebih singkat.
Salah satu karakteristik penting herpes adalah dapat kambuh.
Virus tetap berada di dalam tubuh dan dapat kembali aktif (kambuh) pada waktu tertentu.
Obat-obatan antivirus dapat membantu memperpendek dan mengurangi keparahan episode, tetapi tidak menghilangkan virus dari tubuh.
Ciri-Ciri Luka Sifilis
Berbeda dengan herpes, sifilis di sebabkan oleh bakteri Treponema pallidum dan berkembang melalui beberapa tahap.
Pada sifilis primer, gejala yang paling khas adalah munculnya luka yang di sebut chancre di tempat bakteri masuk ke tubuh.
Luka ini biasanya:
- Berbentuk bulat atau oval.
- Terasa keras pada bagian tepinya.
- Tidak terasa sakit.
- Dapat muncul pada penis, vagina, anus, mulut, atau area lain yang terpapar.
- Dapat sembuh sendiri meskipun sifilis sebenarnya masih berada di dalam tubuh.
Inilah salah satu alasan sifilis dapat terlambat di ketahui.
Luka yang tidak sakit bisa tidak di sadari, terutama apabila muncul di dalam vagina, leher rahim, anus, atau lokasi lain yang sulit terlihat.
Apakah luka sifilis bisa hilang sendiri?
Bisa, tetapi bukan berarti infeksinya sembuh.
Luka sifilis primer dapat menghilang tanpa pengobatan.
Setelah itu, infeksi dapat memasuki tahap berikutnya dan menimbulkan gejala lain.
Tanpa pengobatan, sifilis dapat berkembang menjadi tahap laten dan kemudian menyebabkan komplikasi serius.
Perbedaan Luka Herpes dan Sifilis
Jika di lihat secara sederhana, perbedaannya dapat di gambarkan seperti berikut:
1. Herpes
Lepuhan → pecah → luka yang nyeri.
Dan luka herpes umumnya terasa perih, terbakar, atau sakit, terutama ketika lepuhan pecah menjadi luka terbuka.
Luka juga dapat muncul berkelompok.
2. Sifilis (Raja Singa)
Luka atau chancre → biasanya tidak nyeri → dapat menghilang.
Dengan pemikiran ini luka sifilis primer biasanya tidak sakit, sehingga penderita mungkin tidak menyadarinya.
Luka tersebut dapat sembuh tanpa pengobatan, tetapi bakteri tetap berada di tubuh.
Namun, jangan menggunakan perbedaan ini sebagai diagnosis sendiri.
Luka sifilis dapat memiliki bentuk yang tidak khas dan luka herpes tidak selalu mengikuti gambaran klasik.
Gejala Herpes Selain Luka
Selain luka atau lepuhan, herpes genital dapat menyebabkan:
- Gatal di sekitar genital.
- Sensasi terbakar atau kesemutan.
- Nyeri pada area genital.
- Nyeri saat kencing, terutama jika urine mengenai luka.
- Demam pada episode pertama.
- Nyeri tubuh.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
Menariknya, banyak orang dengan herpes tidak menyadari infeksinya karena tidak mengalami gejala atau hanya mengalami gejala ringan.
Gejala Sifilis Berdasarkan Tahapannya
Sifilis tidak hanya menyebabkan luka genital.
Penyakit ini memiliki beberapa tahap.
1. Sifilis Primer
Tahap ini di tandai dengan chancre atau luka sifilis pada lokasi masuknya bakteri.
Luka biasanya tidak sakit dan dapat sembuh tanpa terapi.
2. Sifilis Sekunder
Setelah fase primer, penderita dapat mengalami ruam kulit, termasuk pada telapak tangan dan telapak kaki.
Gejala lain dapat meliputi:
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Luka pada selaput lendir.
- Demam.
- Kelelahan.
- Kerontokan rambut pada beberapa kasus.
Ruam sifilis sekunder sering kali tidak terasa gatal.
3. Sifilis Laten
Pada tahap laten, penderita tidak mengalami gejala yang terlihat, tetapi hasil pemeriksaan dapat menunjukkan adanya infeksi.
Karena itu, hilangnya luka atau ruam tidak berarti penyakit telah sembuh.
4. Sifilis Tersier
Jika tidak mendapatkan pengobatan, sifilis dapat menyebabkan komplikasi serius pada berbagai organ, termasuk sistem saraf dan jantung.
Infeksi juga dapat menyebabkan neurosifilis, sifilis okular, atau sifilis telinga pada tahap tertentu.
Apakah Herpes dan Sifilis Bisa Muncul Bersamaan?
Bisa.
Seseorang dapat mengalami lebih dari 1 IMS (infeksi menular seksual) pada waktu yang sama.
Karena itu, apabila terdapat luka genital setelah hubungan seksual berisiko, pemeriksaan tidak sebaiknya hanya berfokus pada satu penyakit.
CDC merekomendasikan evaluasi pada semua orang yang memiliki ulkus genital atau perianal.
Pemeriksaan dapat mencakup tes sifilis serta pemeriksaan untuk HSV sesuai kondisi klinis.
Bagaimana Cara Membedakan Herpes dan Sifilis?
Jangan hanya mengandalkan bentuk luka.
Dokter ahli dapat mempertimbangkan:
- Riwayat hubungan seksual dan waktu munculnya gejala.
- Lokasi dan karakter luka.
- Pemeriksaan fisik.
- Pemeriksaan laboratorium.
- Pemeriksaan tambahan berdasarkan kondisi pasien.
Untuk herpes genital, dokter ahli dapat mengambil sampel atau swab dari lepuhan atau luka yang masih aktif untuk pemeriksaan tertentu.
CDC menjelaskan bahwa pemeriksaan herpes dapat menjadi lebih sulit ketika tidak terdapat lesi yang jelas.
Sementara itu, diagnosis sifilis umumnya membutuhkan pemeriksaan serologis.
CDC merekomendasikan penggunaan tes non treponemal seperti RPR atau VDRL bersama tes treponemal untuk membantu diagnosis.
Dengan demikian, tes herpes dan tes sifilis tidak sama.
Apakah Herpes dan Sifilis Bisa Disembuhkan?
Ada perbedaan penting dalam pengobatannya.
1. Herpes genital
Herpes merupakan infeksi virus yang tidak dapat di hilangkan sepenuhnya dari tubuh.
Namun, obat-obatan antivirus dapat membantu mengurangi durasi dan tingkat keparahan gejala serta menurunkan risiko penularan pada kondisi tertentu.
2. Sifilis (Raja Singa)
Berbeda dengan herpes, sifilis dapat di sembuhkan dengan antibiotik yang tepat.
Ada terapi yang merupakan terapi yang direkomendasikan CDC untuk sifilis primer dan sekunder pada orang dewasa dalam kondisi tertentu.
Regimen dapat berbeda berdasarkan stadium dan kondisi pasien.
Karena itu, jangan menggunakan obat-obatan herpes untuk sifilis atau sebaliknya.
Apakah Herpes atau Sifilis Berbahaya?
Keduanya perlu mendapatkan perhatian medis.
Herpes dapat menyebabkan kekambuhan dan meningkatkan risiko seseorang memperoleh atau menularkan HIV.
WHO memperkirakan sekitar 520 juta orang usia 15 hingga 49 tahun di dunia hidup dengan HSV-2 pada 2020, sehingga infeksi ini termasuk masalah kesehatan seksual yang sangat umum.
Sementara itu, sifilis yang tidak di tangani dapat bertahan selama bertahun-tahun dan menyebabkan komplikasi pada sistem saraf, mata, telinga, jantung, serta organ lainnya.
Sifilis juga dapat di tularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan.
Kapan Harus Memeriksakan Luka di Area Genital?
Segera konsultasikan kepada dokter ahli pabila muncul:
- Lepuhan atau luka pada penis, vagina, vulva, anus, atau mulut.
- Terutamanya luka genital yang terasa sakit.
- Luka genital yang tidak terasa sakit tetapi tidak di ketahui penyebabnya.
- Ruam pada tubuh, terutama telapak tangan atau kaki.
- Gatal atau rasa terbakar pada genital.
- Nyeri ketika kencing.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Keluhan setelah hubungan seksual berisiko.
- Pasangan seksual di diagnosis herpes atau sifilis.
Jangan menunggu luka hilang sendiri.
Pada sifilis, luka dapat menghilang meskipun infeksi masih berlangsung.
Sementara itu, lesi herpes dapat sembuh sebelum pasien sempat menjalani pemeriksaan sehingga diagnosis menjadi lebih sulit.
Penanganan Herpes dan Sifilis di Klinik Apollo Jakarta
Jika Anda mengalami luka atau kelainan pada area genital dan belum mengetahui penyebabnya, pemeriksaan medis merupakan langkah yang lebih aman daripada menebak berdasarkan foto atau bentuk luka.
Di Klinik Apollo Jakarta, pasien dapat berkonsultasi mengenai keluhan yang berkaitan dengan herpes genital, sifilis, dan infeksi menular seksual lainnya. Dokter ahli dapat mengevaluasi gejala dan mengarahkan pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Pendekatan tersebut membantu pasien memperoleh diagnosis yang lebih jelas dan penanganan yang sesuai dengan penyebabnya, sekaligus membantu menghindari penggunaan obat secara sembarangan.
Anda juga dapat membaca informasi terkait gejala herpes genital dan gejala sifilis untuk mengetahui lebih banyak mengenai kedua infeksi tersebut.
Kesimpulan
Perbedaan herpes dan sifilis yang paling khas terdapat pada karakter lukanya. Herpes biasanya menyebabkan lepuhan yang dapat pecah menjadi luka terasa nyeri, sedangkan sifilis primer lebih sering menyebabkan chancre yang berbentuk bulat, keras, dan tidak nyeri. Namun, tampilan luka tidak selalu khas.
Herpes dapat tidak menimbulkan gejala, sementara sifilis dapat menyebabkan luka yang tidak di sadari dan kemudian menghilang tanpa pengobatan. Karena itu, pemeriksaan laboratorium di perlukan untuk memastikan diagnosis, terutama setelah adanya paparan seksual berisiko.
Jika Anda menemukan luka, lepuhan, atau perubahan pada area genital, jangan menunggu gejala memburuk dan jangan mengobati diri sendiri.
Konsultasikan dengan dokter ahli di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan pemeriksaan, diagnosis, dan penanganan yang sesuai, sehingga penyebab keluhan dapat di ketahui lebih cepat, pengobatan dapat di berikan secara tepat, dan risiko komplikasi maupun penularan kepada pasangan dapat di minimalkan.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta








