Perbedaan Herpes dan HIV: Gejala, Penyebab, dan Penularannya

Ilustrasi Perbedaan Herpes dan HIV.

Klinik Apollo – Herpes dan HIV sama-sama termasuk infeksi yang dapat menular melalui aktivitas seksual. Karena itu, tidak sedikit orang yang menganggap herpes dan HIV adalah penyakit yang sama.

Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar, mulai dari jenis virus, organ yang terdampak, gejala, cara diagnosis, hingga penanganannya. Herpes genital di sebabkan oleh herpes simplex virus (HSV), terutama HSV-1 atau HSV-2.

Sementara itu, HIV (human immunodeficiency virus) menyerang sistem kekebalan tubuh. Memahami perbedaan herpes dan HIV penting agar seseorang tidak langsung menyimpulkan diagnosis hanya berdasarkan gejala.

Pemeriksaan medis dan tes yang sesuai tetap di perlukan untuk memastikan infeksi.

Apa Itu Herpes?

Herpes genital merupakan salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang di sebabkan oleh HSV-1 atau HSV-2. Virus tersebut dapat menyebabkan luka atau lepuhan di sekitar alat kelamin, anus, rektum, atau area mulut.

Menariknya, sebagian besar orang yang mengalami herpes genital tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi karena gejalanya dapat sangat ringan atau bahkan tidak muncul.

Ketika gejala muncul, herpes dapat menyebabkan lepuhan kecil yang kemudian pecah dan menjadi luka yang terasa nyeri.

Pada infeksi pertama, sebagian orang juga dapat mengalami demam, nyeri tubuh, atau pembengkakan kelenjar getah bening.

Apa Itu HIV?

HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel-sel imun tertentu.

Jika tidak mendapatkan pengobatan, infeksi HIV dapat berkembang hingga tahap lanjut yang di sebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).

Berbeda dengan herpes yang sering menimbulkan luka pada area tertentu, HIV dapat berada dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala yang jelas selama bertahun-tahun.

Pada fase awal, sebagian orang mengalami gejala menyerupai flu, seperti:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Sakit tenggorokan.
  • Ruam.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Namun, sebagian orang tidak mengalami gejala apa pun.

Karena itu, seseorang tidak dapat mengetahui status HIV hanya dengan melihat gejalanya.

Tes HIV di perlukan untuk memastikan diagnosis.

Perbedaan Herpes dan HIV

Sumber CDC menjelaskan bahwa herpes genital dapat di tularkan melalui kontak dengan luka, cairan genital, atau kulit yang terinfeksi, termasuk ketika pasangan seksual tidak memiliki luka yang terlihat.

Sementara itu, HIV di tularkan melalui cairan tubuh tertentu yang mengandung virus dan masuk melalui mukosa, jaringan yang rusak, atau langsung ke aliran darah.

Perbedaan Gejala Herpes dan HIV

Berikut perbedaannya:

1. Gejala Herpes Genital

Dan gejala herpes dapat muncul beberapa hari setelah seseorang terinfeksi, meskipun waktu dan tingkat keparahannya berbeda-beda.

Gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Lepuhan kecil pada area genital.
  • Luka yang terasa nyeri.
  • Rasa terbakar atau gatal.
  • Nyeri saat kencing jika luka berada di sekitar saluran kemih.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Demam atau nyeri tubuh, terutama pada episode pertama.

Setelah luka sembuh, virus herpes tetap berada di dalam tubuh dan dapat mengalami reaktivasi sehingga menyebabkan kekambuhan.

Namun, kekambuhan berikutnya umumnya lebih singkat dan lebih ringan di bandingkan episode pertama.

2. Gejala HIV

Gejala HIV sangat bergantung pada tahap infeksinya.

Pada fase awal, seseorang mungkin mengalami:

  • Demam.
  • Sakit tenggorokan.
  • Ruam.
  • Sakit kepala.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Setelah fase tersebut, seseorang dapat memasuki fase tanpa gejala.

Jika HIV tidak mendapatkan pengobatan, sistem kekebalan tubuh dapat semakin melemah dan meningkatkan risiko berbagai infeksi serta penyakit serius.

Jadi, herpes dan HIV tidak memiliki pola gejala yang sama.

Apakah Herpes Bisa Menjadi HIV?

Tidak. Herpes tidak berubah menjadi HIV. Herpes dan HIV merupakan 2 infeksi yang di sebabkan oleh virus yang berbeda. Namun, terdapat hubungan penting di antara keduanya.

Luka atau kerusakan pada kulit dan selaput lendir akibat herpes genital dapat mempermudah HIV masuk ke tubuh jika seseorang terpapar HIV.

CDC menyebutkan bahwa herpes genital dapat meningkatkan risiko mendapatkan dan menularkan HIV.

Artinya, seseorang yang mengalami herpes bukan berarti pasti memiliki HIV. Jika terdapat faktor risiko paparan HIV, pemeriksaan HIV tetap di perlukan.

Apakah Penderita Herpes Pasti Terkena HIV?

Tidak. Memiliki herpes tidak otomatis berarti seseorang terinfeksi HIV.

Herpes dan HIV memang sama-sama dapat menular melalui aktivitas seksual, tetapi seseorang dapat mengalami salah satunya tanpa mengalami yang lain.

Meski demikian, keberadaan IMS (infeksi menular seksual) seperti herpes merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV apabila terjadi paparan terhadap HIV.

Karena itu, seseorang yang di diagnosis mengalami IMS (infeksi menular seksual) sebaiknya mempertimbangkan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) lainnya sesuai penilaian tenaga kesehatan.

Bagaimana Herpes Menular?

Herpes genital dapat menular melalui:

  • Seks vaginal.
  • Seks anal.
  • Seks oral.
  • Kontak langsung dengan luka herpes.
  • Kontak kulit pada area genital yang terinfeksi.

Yang perlu di perhatikan, herpes tetap dapat menular meskipun luka tidak terlihat.

Seseorang juga dapat memperoleh herpes genital dari pasangan seksual dengan herpes oral melalui aktivitas seks oral.

Herpes tidak menular melalui aktivitas sehari-hari seperti duduk di toilet, berenang di kolam renang, atau berbagi peralatan makan.

Bagaimana HIV Menular?

HIV dapat menular ketika cairan tubuh tertentu dari orang dengan HIV masuk ke tubuh orang lain melalui jaringan mukosa, jaringan yang rusak, atau langsung ke aliran darah.

Penularan paling sering terjadi melalui:

  • Hubungan seksual anal atau vaginal tanpa perlindungan yang sesuai.
  • Berbagi jarum atau alat suntik.
  • Penularan dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan pervaginam, atau menyusui.

Cairan yang dapat menularkan HIV meliputi darah, semen, cairan vagina, cairan rektal, dan ASI (air susu ibu).

Sebaliknya, HIV tidak menular melalui pelukan, berjabat tangan, berbagi makanan, toilet, atau kontak sosial sehari-hari.

Apakah Herpes dan HIV Bisa Disembuhkan?

Berikit penanganannya:

1. Pengobatan Herpes

Saat ini belum tersedia obat-obatan yang menghilangkan HSV dari tubuh secara permanen.

Namun, dokter ahli dapat memberikan obat-obatan antivirus untuk membantu memperpendek atau mengurangi keparahan episode herpes dan menurunkan kemungkinan penularan kepada pasangan seksual.

Karena herpes dapat kambuh, dokter ahli dapat mempertimbangkan terapi episodik atau terapi supresif sesuai kondisi pasien.

2. Pengobatan HIV

HIV juga belum memiliki obat-obatan yang menghilangkan virus dari tubuh secara permanen.

Namun, perkembangan pengobatan membuat HIV dapat di kelola sebagai kondisi kronis.

Pengobatan HIV menggunakan antiretroviral therapy (ART) untuk menekan jumlah virus dalam tubuh.

Dengan pengobatan yang efektif dan kepatuhan terhadap terapi, orang dengan HIV dapat hidup sehat dan panjang.

Bahkan, orang dengan HIV yang menjalani terapi dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV kepada pasangan seksualnya (U=U).

Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Terkena Herpes atau HIV?

Jangan mencoba menentukan diagnosis hanya berdasarkan tampilan luka atau gejala.

1. Untuk herpes

Dokter ahli dapat menilai luka atau lepuhan secara langsung dan, bila di perlukan, melakukan pemeriksaan laboratorium dari luka.

Pemeriksaan herpes memiliki keterbatasan tertentu sehingga pemilihan jenis tes perlu di sesuaikan dengan kondisi pasien.

2. Untuk HIV

Tes HIV merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui status HIV seseorang.

Jenis dan waktu tes perlu di sesuaikan dengan kemungkinan waktu paparan karena setiap metode memiliki periode jendela.

Jika Anda mengalami luka genital, cairan genital yang tidak normal (abnormal), atau memiliki riwayat hubungan seksual berisiko, pemeriksaan dapat membantu mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan apakah di perlukan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) lainnya.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Segera pertimbangkan konsultasi medis jika Anda mengalami:

  • Lepuhan atau luka pada alat kelamin.
  • Luka genital yang terasa nyeri.
  • Rasa terbakar saat kencing.
  • Cairan genital yang tidak biasa.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Demam setelah kemungkinan paparan seksual.
  • Pasangan seksual di diagnosis IMS (infeksi menular seksual).
  • Hubungan seksual tanpa kondom (pengaman atau pelindung) dengan pasangan seksual yang status IMS (infeksi menular seksual) nya tidak di ketahui

Jangan menunggu sampai gejala semakin berat.

Beberapa IMS (infeksi menular seksual), termasuk herpes dan HIV, dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas.

Cara Mengurangi Risiko Herpes dan HIV

Tidak ada 1 metode yang memberikan perlindungan mutlak terhadap seluruh IMS (infeksi menular seksual).

Namun, beberapa langkah dapat menurunkan risiko:

  • Gunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten dan benar.
  • Hindari berganti-ganti pasangan seksual.
  • Lakukan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) secara berkala jika memiliki risiko paparan.
  • Jangan berbagi jarum atau alat suntik.
  • Segera periksakan luka atau keluhan genital yang tidak biasa.
  • Untuk pencegahan HIV, konsultasikan pilihan seperti PrEP jika sesuai dengan tingkat risiko.
  • Jika baru mengalami kemungkinan paparan HIV, segera konsultasikan mengenai PEP, karena obat-obatan pencegahan setelah paparan perlu di berikan sesegera mungkin dan memiliki batas waktu penggunaannya.

WHO menyebutkan PrEP dan PEP sebagai pilihan pencegahan HIV bagi orang dengan risiko tertentu.

FAQ Perbedaan Herpes dan HIV

Apakah herpes termasuk HIV?

Bukan.

Herpes di sebabkan oleh HSV-1 atau HSV-2, sedangkan HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus.

Keduanya merupakan virus yang berbeda.

Apakah herpes merupakan tanda HIV?

Tidak selalu.

Herpes tidak membuktikan seseorang mengalami HIV.

Namun, karena herpes merupakan IMS (infeksi menular seksual) dan dapat meningkatkan risiko penularan HIV ketika terjadi paparan, dokter ahli dapat menyarankan pemeriksaan HIV berdasarkan faktor risiko.

Apakah HIV menyebabkan luka seperti herpes?

HIV sendiri tidak identik dengan lepuhan khas herpes.

Pada HIV stadium tertentu, seseorang dapat mengalami berbagai infeksi atau penyakit lain akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Apakah herpes bisa hilang sendiri?

Luka herpes dapat sembuh, tetapi virusnya tetap berada di dalam tubuh dan dapat kembali aktif.

Pengobatan antivirus dapat membantu mengendalikan episode dan menurunkan risiko penularan.

Apakah orang dengan HIV bisa hidup normal?

Dengan pengobatan ART yang efektif dan di konsumsi sesuai anjuran, HIV dapat dikelola dan orang dengan HIV dapat menjalani hidup yang panjang dan sehat.

Kesimpulan

Perbedaan herpes dan HIV terletak pada virus penyebab, bagian tubuh yang terutama terdampak, gejala, cara diagnosis, serta penanganannya. Herpes genital di sebabkan oleh HSV dan lebih sering berkaitan dengan lepuhan atau luka genital, meskipun banyak kasus tidak menimbulkan gejala.

Sementara itu, HIV menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap tertentu. Keduanya tidak sama dan herpes tidak berubah menjadi HIV. Namun, herpes genital dapat meningkatkan risiko seseorang tertular atau menularkan HIV apabila terjadi paparan HIV.

Jika Anda mengalami luka atau lepuhan pada kelamin, gejala IMS (infeksi menular seksual), atau memiliki kekhawatiran setelah hubungan seksual berisiko, jangan menebak diagnosis sendiri.

Konsultasikan kondisi Anda di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai, membantu mengetahui penyebab keluhan, memperoleh rekomendasi pengobatan berdasarkan hasil evaluasi medis, serta mendapatkan layanan yang mengutamakan privasi pasien.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.