Herpes Genital Tanpa Gejala: Apakah Tetap Bisa Menular?

Ilustrasi Herpes Genital Tanpa Gejala.

Klinik Apollo – Herpes genital sering dikaitkan dengan lepuhan atau luka yang terasa perih di area kelamin. Padahal, herpes genital tanpa gejala juga dapat terjadi.

Seseorang bisa terinfeksi Herpes Simplex Virus (HSV) tanpa menyadari adanya infeksi dan tetap berpotensi menularkan virus kepada pasangan seksual.

Menurut WHO, sebagian besar infeksi HSV tidak menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan gejala ringan yang tidak di kenali.

Pada herpes genital, HSV-2 merupakan penyebab utama, meskipun HSV-1 juga dapat menginfeksi area genital, terutama melalui kontak oral-genital. Karena itu, tidak adanya luka atau lepuhan bukan berarti seseorang pasti bebas dari herpes atau tidak dapat menularkannya.

Apa Itu Herpes Genital Tanpa Gejala?

Herpes genital tanpa gejala adalah infeksi HSV pada area genital yang tidak menimbulkan keluhan khas, seperti lepuhan, luka, rasa terbakar, atau nyeri.

Sebagian orang bahkan tidak mengetahui bahwa dirinya terinfeksi.

CDC menjelaskan bahwa banyak orang dengan HSV-2 mengalami infeksi ringan atau tidak di kenali dan dapat mengalami pelepasan virus secara berkala dari area genital meskipun tidak terdapat luka yang terlihat.

Kondisi ini sering di sebut asymptomatic infection atau infeksi tanpa gejala.

Selain itu, seseorang yang sebenarnya mengalami gejala ringan mungkin menganggapnya sebagai iritasi kulit, luka akibat mencukur, atau masalah kulit biasa.

Akibatnya, infeksi herpes dapat tidak terdiagnosis.

Apakah Herpes Genital Tanpa Gejala Tetap Bisa Menular?

Ya, tetap bisa menular.

Ini merupakan salah satu hal penting mengenai herpes genital.

HSV dapat di lepaskan dari permukaan kulit atau mukosa genital meskipun tidak terdapat lepuhan maupun luka yang terlihat.

Proses ini di sebut asymptomatic viral shedding atau pelepasan virus tanpa gejala.

CDC menyatakan bahwa sebagian besar penularan herpes genital terjadi dari orang yang tidak mengetahui dirinya terinfeksi atau sedang tidak mengalami gejala ketika melakukan kontak seksual.

WHO juga menjelaskan bahwa HSV-2 dapat di tularkan melalui kontak seksual dengan area genital atau anal dan dapat berpindah meskipun kulit tampak normal.

Dengan demikian: Tidak ada luka ≠ tidak ada virus.

Bagaimana Herpes Genital Tanpa Gejala Bisa Menular?

HSV terutama berpindah melalui kontak langsung dengan kulit, mukosa, cairan, atau luka yang terinfeksi.

Penularan dapat terjadi melalui:

  • Hubungan seksual vaginal.
  • Hubungan seksual anal.
  • Seks oral.
  • Kontak langsung kulit genital dengan area yang mengandung HSV.
  • Kontak oral-genital apabila pasangan seksual memiliki HSV-1 pada area mulut.

HSV-1 yang menyebabkan herpes pada mulut juga dapat berpindah ke area genital melalui seks oral.

Karena itu, seseorang tidak harus memiliki luka terbuka agar virus dapat berpindah kepada pasangan seksual.

Seberapa Sering Virus Herpes Keluar Tanpa Gejala?

Frekuensi pelepasan virus berbeda pada setiap orang dan di pengaruhi antara lain oleh jenis HSV, lamanya infeksi, serta kondisi individu.

Pelepasan virus tanpa gejala lebih sering terjadi pada herpes genital akibat HSV-2 di bandingkan herpes genital akibat HSV-1.

CDC menyebutkan bahwa pelepasan virus subklinis juga lebih sering terjadi pada HSV-2 di bandingkan HSV-1.

Oleh karena itu, seseorang dengan HSV-2 tetap perlu memahami risiko penularan walaupun tidak pernah mengalami lepuhan yang khas.

Ciri Herpes Genital Tanpa Gejala

Karena tidak menimbulkan gejala khas, kondisi ini memang sulit di kenali hanya dari kondisi fisik.

Namun, beberapa orang mungkin pernah mengalami keluhan yang sangat ringan, seperti:

  • Rasa gatal sementara.
  • Kesemutan di area genital.
  • Sensasi terbakar ringan.
  • Benjolan kecil yang cepat menghilang.
  • Luka kecil yang di anggap sebagai iritasi.
  • Rasa tidak nyaman yang tidak berlangsung lama.

Pada sebagian orang, tidak ada keluhan sama sekali.

WHO menjelaskan bahwa gejala herpes dapat berupa lepuhan atau luka yang terasa sakit, tetapi banyak orang tidak mengalami gejala atau tidak menyadari gejala yang mereka alami.

Apakah Herpes Genital Bisa Menular dari Pasangan yang Terlihat Sehat?

Bisa.

Pasangan seksual dapat terlihat sehat tanpa adanya luka atau lepuhan, tetapi tetap memiliki HSV.

CDC secara khusus menyebutkan bahwa seseorang dapat memperoleh herpes genital dari pasangan seksual yang tidak memiliki luka yang terlihat atau bahkan tidak mengetahui dirinya terinfeksi.

Inilah alasan mengapa herpes genital terkadang baru di ketahui setelah salah satu pasangan seksual menjalani pemeriksaan.

Namun, munculnya herpes pada seseorang tidak dapat di gunakan untuk menentukan kapan atau dari siapa infeksi tersebut di dapat.

Diagnosis dan riwayat seksual perlu di pertimbangkan secara hati-hati.

Apakah Kondom Bisa Mencegah Penularan Herpes?

Kondom (pengaman atau pelindung) dapat mengurangi risiko, tetapi tidak memberikan perlindungan 100%.

Alasannya, HSV dapat berada pada area kulit genital atau anal yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).

WHO menyebutkan bahwa penggunaan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten dan benar dapat menurunkan risiko penularan, tetapi virus tetap dapat berpindah melalui area yang tidak terlindungi.

Untuk menurunkan risiko penularan, beberapa langkah yang dapat di lakukan antara lain:

  • Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten.
  • Menghindari hubungan seksual ketika terdapat luka atau lepuhan.
  • Menghindari aktivitas seksual ketika muncul gejala awal seperti rasa terbakar atau kesemutan yang di duga merupakan tanda kekambuhan.
  • Memberi tahu pasangan seksual mengenai diagnosis herpes.
  • Berkonsultasi dengan dokter ahli mengenai pilihan terapi antivirus.

Apakah Herpes Genital Bisa Diobati?

Bisa di kendalikan, tetapi HSV belum dapat di hilangkan sepenuhnya dari tubuh.

Herpes genital merupakan infeksi virus yang dapat menetap dalam tubuh.

Obat-obatan antivirus dapat membantu memperpendek atau mengurangi keparahan episode serta, pada kondisi tertentu, membantu menurunkan risiko penularan.

Pemilihan obat-obatan dan dosis harus di sesuaikan dengan kondisi pasien.

CDC menjelaskan bahwa terapi antivirus dapat di gunakan untuk episode herpes genital maupun sebagai terapi supresif pada kondisi tertentu.

Terapi supresif juga dapat membantu menurunkan risiko penularan HSV-2 pada pasangan seksual dalam konteks tertentu.

Apakah Orang Tanpa Gejala Perlu Diobati?

Jawabannya tidak selalu sama untuk setiap orang.

CDC menjelaskan bahwa pada seseorang yang mendapatkan diagnosis HSV-2 tanpa gejala melalui pemeriksaan serologis, terapi antivirus episodik atau supresif tidak secara rutin di rekomendasikan hanya untuk mencegah kekambuhan karena orang tersebut tidak mengalami kekambuhan.

Selain itu, efektivitas terapi supresif dalam mencegah penularan pada kelompok yang benar-benar asimtomatik belum di ketahui dengan pasti.

Karena itu, keputusan pengobatan sebaiknya di buat bersama dokter ahli berdasarkan:

  • Jenis HSV.
  • Ada atau tidaknya gejala.
  • Riwayat kekambuhan.
  • Kondisi pasangan seksual.
  • Risiko penularan.
  • Kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Bagaimana Cara Mengetahui Herpes Genital Tanpa Gejala?

Karena tidak ada luka yang dapat di periksa, diagnosis herpes tanpa gejala membutuhkan pertimbangan medis yang lebih hati-hati.

Pada kondisi tertentu, dokter ahli dapat mempertimbangkan tes darah tipe-spesifik untuk antibodi HSV.

Namun, pemeriksaan tersebut memiliki keterbatasan dan tidak selalu di perlukan bagi semua orang.

CDC juga menjelaskan bahwa diagnosis herpes genital dapat sulit di lakukan karena luka khas tidak selalu terlihat ketika seseorang di periksa.

Pemeriksaan laboratorium perlu di pertimbangkan sesuai kondisi klinis.

Jadi, jangan melakukan tes herpes secara sembarangan tanpa berkonsultasi dengan dokter ahli, terutama jika tidak memiliki gejala.

Apakah Herpes Genital Berbahaya?

Pada sebagian besar orang, herpes genital dapat di kelola dengan baik.

Namun, infeksi ini tetap perlu di perhatikan karena dapat menyebabkan luka berulang dan memiliki implikasi tertentu terhadap kesehatan seksual.

WHO memperkirakan sekitar 520 juta orang usia 15 hingga 49 tahun di seluruh dunia mengalami HSV-2, berdasarkan estimasi tahun 2020.

WHO juga memperkirakan sekitar 205 juta orang usia 15 hingga 49 tahun mengalami setidaknya satu episode herpes genital yang bergejala pada tahun tersebut.

Selain itu, infeksi HSV-2 di kaitkan dengan peningkatan risiko memperoleh HIV.

WHO menyebutkan bahwa HSV-2 meningkatkan risiko mendapatkan HIV sekitar 3x lipat.

Herpes Genital dan Kehamilan

Wanita yang memiliki herpes genital atau pernah mendapatkan diagnosis HSV sebaiknya memberi tahu dokter ahli ketika hamil atau merencanakan kehamilan.

Hal ini penting karena herpes dapat d itularkan dari ibu kepada bayi terutama ketika terjadi paparan virus saat persalinan pervaginam.

Risiko paling besar terjadi ketika ibu mendapatkan infeksi herpes genital untuk pertama kalinya pada akhir kehamilan.

Karena itu, jangan menghentikan atau memulai obat-obatan antivirus sendiri selama kehamilan.

Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ahli.

Cara Mencegah Penularan Herpes Genital

Tidak ada metode yang dapat menjamin risiko penularan menjadi nol, tetapi beberapa langkah dapat membantu menguranginya.

1. Hindari hubungan seksual ketika ada gejala

Ketika terdapat lepuhan, luka, atau gejala awal kekambuhan, sebaiknya hindari hubungan seksual sampai gejala membaik dan dokter ahli memberikan arahan yang sesuai.

2. Gunakan kondom (pengaman atau pelindung)

Kondom (pengaman atau pelindung) dapat mengurangi risiko, meskipun tidak sepenuhnya mencegah penularan karena tidak menutupi seluruh area kulit yang mungkin mengandung virus.

3. Komunikasikan kondisi dengan pasangan seksual

Pasangan seksual perlu mengetahui adanya diagnosis HSV sehingga dapat mendiskusikan pilihan pencegahan dan pemeriksaan bersama.

4. Konsultasikan terapi antivirus

Pada orang dengan herpes genital simptomatik tertentu, dokter ahli dapat mempertimbangkan terapi supresif untuk membantu mengurangi kekambuhan dan risiko penularan.

Kapan Harus Periksa ke Dokter Ahli?

Pertimbangkan pemeriksaan apabila:

  • Pernah berhubungan seksual dengan pasangan seksual yang memiliki herpes.
  • Pasangan seksual mendapatkan diagnosis HSV.
  • Muncul lepuhan atau luka pada area genital.
  • Mengalami gatal atau sensasi terbakar yang berulang (kambuh).
  • Mengalami luka genital yang tidak jelas penyebabnya.
  • Memiliki hasil tes HSV yang perlu di konfirmasi atau di jelaskan.
  • Sedang hamil dan memiliki riwayat herpes genital.

Jangan menunggu munculnya luka apabila Anda memiliki alasan kuat untuk mencurigai adanya paparan.

Dokter ahli dapat membantu menentukan apakah pemeriksaan di perlukan dan jenis pemeriksaan yang sesuai.

Pemeriksaan Herpes Genital di Klinik Apollo

Klinik Apollo menyediakan layanan kesehatan penyakit kelamin, termasuk pemeriksaan penyakit menular seksual (PMS), konsultasi dokter ahli, serta pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.

Informasi layanan klinik mencantumkan pemeriksaan dokter ahli, tes darah, serta pemeriksaan PMS (penyakit menular seksual) sebagai bagian dari layanan yang tersedia.

Pemeriksaan secara langsung dapat membantu pasien mendapatkan evaluasi gejala, penentuan pemeriksaan yang sesuai, penjelasan mengenai risiko penularan, serta pilihan pengobatan berdasarkan kondisi yang di temukan.

Dengan demikian, pasien tidak perlu menebak penyebab keluhan atau menggunakan obat-obatan antivirus tanpa diagnosis yang jelas.

Kesimpulan

Herpes genital tanpa gejala tetap dapat menular. HSV dapat mengalami pelepasan dari area genital meskipun tidak terdapat luka atau lepuhan yang terlihat. Risiko tersebut terutama perlu di perhatikan pada infeksi HSV-2.

Penggunaan kondom (pengaman atau pelindung), menghindari hubungan seksual ketika terdapat gejala, komunikasi terbuka dengan pasangan seksual, serta konsultasi mengenai terapi antivirus dapat membantu mengurangi risiko penularan.

Sementara itu, pemeriksaan dokter ahli penting apabila terdapat riwayat paparan atau keluhan yang mencurigakan.

Jika Anda khawatir mengalami herpes genital tanpa gejala atau memiliki riwayat kontak dengan pasangan seksual yang terinfeksi, segera konsultasikan ke dokter ahli di Klinik Apollo untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat, penjelasan mengenai risiko penularan, dan penanganan sesuai kondisi dengan tetap mengutamakan privasi pasien.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.