Perbedaan Herpes Simplex dan Herpes Zoster yang Wajib Tahu

Ilustrasi Perbedaan Herpes Simplex dan Herpes Zoster.

Klinik Apollo – Herpes simplex dan herpes zoster sama-sama dapat menyebabkan lepuhan atau luka pada kulit.

Namun, keduanya bukan penyakit yang sama. Perbedaan herpes simplex dan herpes zoster terutama terletak pada jenis virus penyebab, cara penularan, lokasi munculnya luka, pola gejala, serta risiko komplikasinya.

Karena tampilan awalnya dapat terlihat mirip, sebagian orang kesulitan membedakan herpes simplex vs herpes zoster. Padahal, diagnosis yang tepat penting agar penanganan dapat di berikan sesuai penyebabnya.

Artikel ini membahas perbedaan keduanya berdasarkan informasi medis dari sumber tepercaya, termasuk World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Apa Itu Herpes Simplex?

Herpes simplex merupakan infeksi yang di sebabkan oleh herpes simplex virus (HSV). Virus ini terutama terdiri dari HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 lebih sering menyebabkan herpes oral atau luka lepuh di sekitar mulut, meskipun virus tersebut juga dapat menyebabkan herpes genital.

Sementara itu, HSV-2 merupakan penyebab utama herpes genital dan umumnya di tularkan melalui kontak seksual. Menurut WHO, di perkirakan sekitar 3,8 miliar orang berusia di bawah 50 tahun atau 64% populasi dunia mengalami infeksi HSV-1.

Sementara itu, sekitar 520 juta orang berusia 15 hingga 49 tahun atau 13% hidup dengan infeksi HSV-2. Infeksi herpes simplex dapat menetap di dalam tubuh dan mengalami kekambuhan (recurrence).

Namun, sebagian besar orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala atau hanya mengalami gejala ringan sehingga tidak menyadari dirinya terinfeksi. Jika muncul gejala, herpes simplex dapat menyebabkan:

  • Lepuhan kecil berisi cairan.
  • Luka atau ulkus yang terasa nyeri.
  • Rasa gatal, terbakar, atau kesemutan sebelum luka muncul.
  • Luka di sekitar mulut atau bibir pada herpes oral.
  • Luka atau lepuhan di area genital dan anus pada herpes genital.
  • Demam, nyeri tubuh, atau pembengkakan kelenjar getah bening, terutama pada episode pertama.

WHO menyebutkan bahwa luka akibat HSV dapat muncul kembali (kambuh) secara berkala, dan kekambuhan biasanya lebih singkat serta lebih ringan di bandingkan episode pertama.

Apa Itu Herpes Zoster?

Herpes zoster, yang sering di sebut cacar ular, di sebabkan oleh varicella zoster virus (VZV). Virus yang sama juga menyebabkan cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, VZV tidak benar-benar hilang dari tubuh.

Virus dapat tetap berada dalam keadaan tidak aktif di jaringan saraf dan kemudian mengalami reaktivasi sehingga menyebabkan herpes zoster.

Herpes zoster lebih sering terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun, meskipun orang yang lebih muda juga dapat mengalaminya.

Risiko juga meningkat ketika sistem kekebalan tubuh melemah. Gejala khas herpes zoster antara lain:

  • Nyeri, rasa terbakar, kesemutan, atau gatal sebelum ruam muncul.
  • Sekelompok lepuhan berisi cairan.
  • Ruam biasanya muncul pada 1 sisi tubuh.
  • Luka dapat membentuk pola seperti pita mengikuti jalur saraf.
  • Demam, sakit kepala, menggigil, atau kelelahan pada sebagian orang.
  • Lepuhan kemudian pecah, mengering, dan membentuk keropeng.

CDC menyebutkan bahwa ruam herpes zoster biasanya tidak melewati garis tengah tubuh dan umumnya sembuh dalam sekitar 2 hingga 4 minggu.

Perbedaan Herpes Simplex dan Herpes Zoster

Berikut perbedaannya;

1. Perbedaan Penyebab Herpes Simplex dan Herpes Zoster

Perbedaan paling mendasar adalah virus penyebabnya.

Herpes simplex di sebabkan oleh HSV-1 atau HSV-2.

HSV-1 paling sering berkaitan dengan herpes oral, sedangkan HSV-2 merupakan penyebab utama herpes genital.

Namun, HSV-1 juga dapat menyebabkan infeksi genital.

Sementara itu, herpes zoster di sebabkan oleh VZV, yaitu virus yang sama dengan penyebab cacar air.

Karena itu, seseorang tidak mengalami herpes zoster karena tertular HSV-1 atau HSV-2.

2. Perbedaan Cara Penularannya

Herpes simplex dapat menular melalui kontak langsung dengan kulit, luka, cairan, atau area yang terinfeksi.

HSV juga dapat menular ketika tidak terdapat luka yang terlihat sehingga seseorang dapat menularkan virus tanpa menyadari dirinya sedang mengalami infeksi.

Pada herpes genital, penularan terutama terjadi melalui kontak seksual dengan area yang terinfeksi.

Berbeda dengan itu, herpes zoster bukan berarti penyakit yang di tularkan dari 1 orang ke orang lain sebagai herpes zoster.

Seseorang yang mengalami herpes zoster dapat menularkan VZV kepada orang yang belum pernah mengalami cacar air atau belum memiliki kekebalan terhadap VZV.

Orang tersebut kemudian dapat mengalami cacar air, bukan herpes zoster.

3. Perbedaan Lokasi dan Bentuk Ruam

Lokasi ruam menjadi salah satu petunjuk penting ketika dokter membedakan herpes simplex dan herpes zoster.

Pada herpes simplex, lepuhan dapat muncul di sekitar mulut, bibir, genital, anus, atau area kulit tertentu.

Luka biasanya berupa lepuhan atau luka yang dapat muncul secara berkelompok.

Sebaliknya, herpes zoster umumnya menyebabkan ruam pada satu sisi tubuh dan mengikuti area persarafan tertentu.

Ruam sering tampak seperti pita yang terdiri dari kelompok lepuhan.

Namun, lokasi dan tampilan ruam saja tidak selalu cukup untuk memastikan diagnosis.

Beberapa kasus dapat memiliki gambaran yang tidak khas sehingga pemeriksaan dokter ahli tetap di perlukan.

4. Perbedaan Rasa Nyeri

Herpes simplex dapat menyebabkan rasa nyeri, perih, gatal, atau terbakar pada area yang mengalami luka.

Sensasi kesemutan atau rasa terbakar juga dapat muncul sebelum lepuhan terlihat.

Pada herpes zoster, nyeri saraf sering menjadi salah satu ciri yang menonjol.

Rasa nyeri, terbakar, kesemutan, atau mati rasa dapat muncul beberapa hari sebelum ruam.

Pada sebagian pasien, nyeri akibat herpes zoster dapat menetap setelah ruam menghilang.

Kondisi ini di sebut postherpetic neuralgia (PHN) dan merupakan komplikasi herpes zoster yang paling umum.

5. Apakah Herpes Simplex Bisa Kambuh?

Ya.

Salah satu karakteristik herpes simplex adalah virus dapat menetap di dalam tubuh dan mengalami reaktivasi.

Kekambuhan dapat di picu oleh beberapa kondisi, misalnya:

  • Stres.
  • Demam atau sakit.
  • Menstruasi.
  • Cedera.
  • Paparan sinar matahari pada sebagian penderita herpes oral.
  • Kondisi tertentu yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Frekuensi kekambuhan berbeda pada setiap orang.

HSV-2 juga lebih sering mengalami kekambuhan di bandingkan herpes genital yang di sebabkan HSV-1.

6. Apakah Herpes Zoster Bisa Kambuh?

Herpes zoster umumnya terjadi ketika VZV yang sebelumnya tidak aktif mengalami reaktivasi.

Risiko meningkat seiring bertambahnya usia dan ketika sistem kekebalan tubuh melemah.

Meskipun sebagian besar orang hanya mengalaminya sekali, herpes zoster tetap dapat kambuh pada sebagian orang.

Vaksin herpes zoster dapat di gunakan sebagai salah satu upaya pencegahan dan membantu mengurangi risiko herpes zoster serta komplikasinya.

Apakah Herpes Simplex dan Herpes Zoster Sama-Sama Menular?

Tidak dengan cara yang sama.

Herpes simplex dapat menular langsung dari orang yang terinfeksi kepada orang lain, termasuk ketika gejala tidak terlihat.

Risiko penularan meningkat ketika terdapat luka atau lepuhan aktif.

Sementara itu, orang dengan herpes zoster dapat menyebarkan VZV melalui kontak dengan cairan dari lepuhan kepada orang yang belum memiliki kekebalan.

Orang tersebut dapat mengalami cacar air.

Risiko penularan menurun setelah lepuhan mengering dan membentuk keropeng.

Karena itu, penderita herpes zoster sebaiknya menutup ruam, tidak menyentuh atau menggaruk lepuhan, serta menjaga kebersihan tangan.

Bagaimana Cara Mengetahui Apakah Itu Herpes Simplex atau Herpes Zoster?

Dokter ahli dapat mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

  • Riwayat penyakit dan keluhan.
  • Lokasi serta pola ruam.
  • Bentuk lepuhan dan luka.
  • Rasa nyeri atau sensasi saraf yang menyertai.
  • Riwayat cacar air atau vaksinasi.
  • Pemeriksaan laboratorium jika di perlukan.

Pada herpes zoster, gambaran ruam yang khas sering membantu dokter ahli menegakkan diagnosis.

Namun, diagnosis dapat menjadi lebih sulit ketika ruam belum muncul atau bentuknya tidak khas.

CDC juga menjelaskan bahwa herpes zoster dapat menyerupai herpes simplex dan beberapa kondisi kulit lainnya.

Karena itu, jangan menentukan jenis herpes hanya berdasarkan foto atau bentuk luka.

Bagaimana Pengobatan Herpes Simplex dan Herpes Zoster?

Baik herpes simplex maupun herpes zoster dapat di tangani dengan obat-obatan antivirus, tetapi dokter ahli perlu menentukan diagnosis terlebih dahulu.

Untuk herpes simplex, obat-obatan antivirus dapat di gunakan untuk membantu mengurangi durasi dan tingkat keparahan gejala.

Terapi juga dapat di berikan untuk mengurangi frekuensi kekambuhan pada kondisi tertentu. Sementara itu, pada herpes zoster, obat-obatan antivirus dapat membantu mengurangi keparahan dan durasi penyakit.

Pengobatan paling efektif bila di mulai sedini mungkin, terutama dalam 72 jam setelah ruam muncul. Jangan membeli atau menggunakan obat-obatan antivirus sendiri tanpa pemeriksaan dokter ahli, karena pemilihan obat-obatan, dosis, dan durasi terapi perlu di sesuaikan dengan kondisi pasien.

Kapan Harus Segera Memeriksakan Diri?

Segera konsultasikan keluhan kepada dokter ahli apabila muncul:

  • Lepuhan atau luka yang terasa nyeri.
  • Luka pada area genital atau anus.
  • Ruam yang menyebar pada 1 sisi tubuh.
  • Nyeri atau rasa terbakar sebelum muncul ruam.
  • Luka di sekitar mata atau wajah.
  • Demam yang menyertai munculnya lepuhan.
  • Keluhan yang sering kambuh.
  • Ruam pada seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Ruam atau lepuhan di sekitar mata membutuhkan perhatian medis segera, karena herpes zoster yang mengenai area mata dapat menyebabkan komplikasi serius hingga gangguan penglihatan.

Kesimpulan

Perbedaan herpes simplex dan herpes zoster yang paling utama terletak pada virus penyebabnya. Herpes simplex di sebabkan oleh HSV-1 atau HSV-2 dan dapat menyebabkan herpes oral maupun genital. Sementara itu, herpes zoster di sebabkan oleh reaktivasi varicella-zoster virus yang sebelumnya menyebabkan cacar air.

Herpes simplex cenderung menyebabkan lepuhan atau luka yang dapat kambuh, sedangkan herpes zoster biasanya menimbulkan ruam lepuhan yang nyeri pada 1 sisi tubuh mengikuti jalur saraf. Jika Anda mengalami lepuhan, luka pada area genital, rasa terbakar, atau ruam yang belum di ketahui penyebabnya, jangan menunda pemeriksaan hanya karena menganggapnya sebagai herpes biasa.

Diagnosis yang tepat membantu menentukan penanganan yang sesuai sekaligus mengurangi risiko penularan dan komplikasi. Untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang lebih terarah, Anda dapat melakukan konsultasi dengan tenaga medis di Klinik Apollo Jakarta.

Pemeriksaan membantu mengetahui penyebab keluhan, menentukan terapi yang sesuai berdasarkan kondisi Anda, serta memberikan edukasi mengenai pencegahan penularan dan kekambuhan dengan tetap mengutamakan privasi pasien.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.