Sifilis: Pengertian, Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pencegahan

Klinik Apollo Sifilis adalah penyakit yang dapat menular secara seksual. Penyakit ini bukanlah kondisi yang bisa dianggap remeh karena memiliki tahapan yang dapat merusak organ tubuh.

Pada tahap awal, infeksi dimulai dengan luka yang tidak sakit yang bisa muncul di penis, vagina, rektum, atau mulut.

Tahukah Anda bahwa penyakit ini menyebar dari satu individu kepada individu lainnya melalui kontak kulit atau selaput lendir.

Pasca infeksi pertama, bakteri yang menyebabkan penyakit sifilis akan menetap dalam tubuh dengan status nonaktif.

Ini bisa terjadi selama puluhan tahun sebelum bakteri aktif kembali. Karena bisa tidak bergejala hingga bertahun-tahun, mendiagnosisnya bukanlah hal yang mudah.

>> Konsultasi Online Gratis di Sini <<

Apa Itu Sifilis?

Sifilis: Pengertian, Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pencegahan

Img: klinikapollojakarta.com

Sifilis atau penyakit raja singa adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan ditularkan lewat kontak seksual.

Seseorang bisa mengalami raja singa tanpa memiliki tanda-tanda apapun.

Akibatnya, penyakit kelamin ini jarang segera ditangani dan biasanya mulai terdeteksi ketika organ, seperti jantung atau otak sudah mengalami kerusakan.

Tidak hanya dialami pria dan wanita, bayi  pun bisa terinfeksi penyakit ini dari ibunya.

Tahukah Anda bahwa penyakit raja singa memiliki berbagai macam tahap, yakni primer, sekunder, laten, dan tersier. Setiap tahap mempunyai gejala dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Penyebab

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyebaran penyakit ini biasanya terjadi melalui kontak dengan luka atau lesi dari penderita selama beraktivitas secara seksual. Bakteri tersebut memasuki tubuh melalui luka kecil atau lecet pada kulit atau selaput lendir.

Penyakit ini dapat menular pada tahap primer dan sekunder, dan terkadang juga pada awal tahap laten.

Pada kasus yang jarang terjadi, raja singa dapat menyebar melalui kontak langsung dengan lesi yang aktif, seperti dalam kasus berciuman.

Selain itu, penyebaran dari ibu kepada bayi selama kehamilan atau saat persalinan juga bisa saja terjadi.

Namun, perlu dicatat bahwa sifilis tidak dapat menyebar melalui penggunaan fasilitas umum seperti toilet, bak mandi, pakaian atau peralatan makan bersama. 

Selain itu, juga tidak dapat menyebar melalui permukaan seperti gagang pintu, kolam renang, atau bak mandi air panas.

Sekali sembuh, penyakit ini tidak akan muncul kembali atau kambuh secara spontan. Akan tetapi, risiko terinfeksi kembali tetap ada. Hal itu bisa terjadi apabila ada kontak dengan luka dari individu lain.

Gejala

Penyakit ini mengalami perkembangan secara bertahap dengan gejala yang beragam pada masing-masing tahapnya.

Namun, tahapan ini dapat bersifat saling tumpang tindih, dan gejalanya tidak selalu muncul dalam urutan yang konsisten.

Ada kemungkinan seseorang terinfeksi tanpa menunjukkan ciri-ciri apa pun selama bertahun-tahun.

Gejala penyakit raja singa memiliki inkubasi dari waktu terinfeksi hingga muncul gejala pertama kali, rata-rata sekitar 21 hari. Akan tetapi, gejalanya dapat berkisar antara 10 hingga 90 hari.

Berikut adalah gejala yang muncul berdasarkan tahapan penyakit sifilis.

a. Tahap primer

Ciri pertama dari infeksi sifilis primer adalah luka yang berukuran kecil (chancre). Luka atau lesi ini muncul di tempat patogen masuk ke dalam tubuh.

Beberapa penderita hanya memiliki satu luka, sedangkan yang lainnya mempunyai beberapa chancre.

Setelah terinfeksi, umumnya luka berkembang sekitar 3 pekan. Tidak adanya sensasi nyeri dan dapat hadir di lokasi yang tertutup (vagina atau rektum) membuat gejala ini tidak disadari oleh para pengidap.

Luka atau chancre yang timbul, dapat hilang sembuh dengan sendirinya dalam waktu 3 hingga 6 minggu.

Namun,  infeksi Treponema pallidum akan berlanjut ke tahap kedua ketika pengidapnya tidak mendapatkan penyembuhan.

b. Tahap sekunder

Tahapan kedua dari penyakit menular seksual ini ditandai dengan ruam di telapak tangan, kaki, atau bagian lain yang terinfeksi.

Ruam ini tampak selayaknya masalah kulit biasa. Umumnya berwarna cokelat kemerahan, berukuran kecil, padat, datar atau terangkat di kulit setinggi kurang dari 2 cm.

Tahapan sekunder akan terjadi beberapa minggu pasca infeksi pertama (luka) di sekitar vagina, penis, lubang anus, bibir, atau mulut menghilang. Selain ruam, penderita tingkat sekunder juga akan merasakan beberapa gejala lain.

Penderita akan mengalami tanda-tanda yang lainnya, yaitu flu, nyeri di kepala, nyeri sendi, demam, kelelahan secara berlebihan, pembengkakan kelenjar getah bening, kerontokan rambut, dan penurunan berat badan.

Apabila tahap sekunder tidak mendapatkan perawatan yang efektif, infeksi raja singa dapat naik ke tahap yang selajutnya, yakni laten dan akhir.

c. Tahap laten

Tahap yang ketiga adalah laten. Tahapan ini juga dikenal sebagai “tahap tersembunyi”.  Laten merupakan periode pada saat seseorang terinfeksi. Namun, tidak ada tanda yang muncul. 

Laten sendiri terdiri atas laten dini dan lambat. Laten dini merujuk pada penderita yang terinfeksi dalam satu tahun terakhir, sedangkan laten lambat mengacu pada pengidap yang terinfeksi selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya.

Gejala mungkin tidak akan pernah timbul kembali atau penyakitnya berkembang ke tahap akhir. Tahap akhir itu bernama tersier.

d. Tahap tersier

Tahap tersier adalah fase akhir penyakit sifilis yang dapat terjadi pada sejumlah individu yang tidak menerima pengobatan, bisa berlangsung bertahun-tahun setelah awal infeksi.

Pada tahap tersier, penyakit raja singa dapat mengakibatkan kerusakan pada berbagai organ dan sistem dalam tubuh, termasuk tulang, sendi, mata, hati, saraf, jantung, pembuluh darah, dan otak.

Individu yang berada di tahap tersier berisiko mengalami sejumlah masalah kesehatan, seperti gangguan penglihatan, masalah pendengaran, dementia (kelainan mental), kelainan struktur tulang dan jaringan ikat, kerusakan jantung, meningitis, dan stroke.

Diketahui, infeksi raja singa dapat menyebar ke otak atau sumsum tulang belakang, yang disebut neurosifilis. Gejala neurosifilis bisa berupa sakit kepala, gangguan fungsi kognitif, mati rasa, kesulitan mengendalikan gerakan pada bagian tubuh tertentu, atau bahkan kelumpuhan.

>> Konsultasi Online Gratis di Sini <<

Diagnosis

Diagnosis sifilis melibatkan serangkaian langkah yang dilakukan oleh dokter spesialis penyakit kelamin.

Berikut adalah beberapa metode yang digunakan dalam mendiagnosis raja singa.

a. Riwayat medis dan pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan wawancara medis untuk memahami riwayat seksual dan gejala yang mungkin Anda alami.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik mencari tanda-tanda penyakitnya. Misalnya, luka terbuka atau ruam di kulit.

b. Tes darah

Tes darah termasuk cara paling umum untuk mendiagnosis penyakit menular yang satu ini. Terdapat dua jenis tes darah utama yang digunakan, yakni Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) dan Treponema Pallidum Haemagglutination (TPHA).

Tes VDRL mengukur antibodi yang ada di tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi. Hasil positif pada tes ini kemudian terkonfirmasi dengan tes treponemal.

Sedangkan TPHA merupakan tes serologi untuk sipilis dan kurang sensitif apabila digunakan sebagai skrining. Tidak ada persiapan khusus dalam tes ini.

c. Pemeriksaan cairan

Dokter dapat mengambil sampel cairan dari area tersebut, kemudian memeriksanya di laboratorium apabila ada chancre  atau ruam yang mencurigakan.

d. Pemeriksaan diagnostik tambahan

Pada tahap yang lebih lanjut, dokter dapat merujuk Anda untuk pemeriksaan diagnostik tambahan, seperti radiografi dada, tes cairan serebrospinal, atau pemeriksaan lain yang sesuai. Ini juga berlaku jika ada kekhawatiran mengenai komplikasi.

Pengobatan

Bila penderita mengetahui infeksi dan mengobatinya secara dini, mudah bagi dirinya untuk menghilangkan bakteri Treponema pallidum.

Dokter dapat mengobati sifilis tahap primer, sekunder, tersier dengan suntikan antibiotik berdosis tunggal.

Di samping itu, penderita yang telah terinfeksi selama lebih dari satu tahun, mungkin memerlukan dosis tambahan.

Selama perawatan, penderita wajib menghindari hubungan intim dengan pasangan seksual hingga pengobatan selesai.

Selain itu, pasien perlu melakukan pemeriksaan, bahkan pengobatan. Ditambah, penderita perlu menjalani pemeriksaan HIV.

Komplikasi

Berbagai komplikasi dari penyakit raja singa adalah sebagai berikut.

a. Benjolan kecil

Pada tahap akhir, benjolan ‘gumma’ dapat berkembang di kulit, tulang, hati atau organ lainnya. Benjolan biasanya lenyap setelah pasien mendapatkan obat yang tepat.

b. Gangguan neurologis

Gangguan neurologis merupakan masalah sistem saraf pusat dan perifer. Masalah-masalah ini mencakup meningitis, masalah pendengaran, gangguan penglihatan, demensia, masalah seksual pada pria, dan inkontinensia urine.

c. Masalah kardiovaskular

Masalah kardiovaskular, antara lain pembengkakan aorta atau arteri utama dalam tubuh, dan pembuluh darah lainnya. Gangguan ini juga dapat membuat katup jantung menjadi rusak.

d. Infeksi HIV

Orang dewasa yang mengalami kondisi ini memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk terinfeksi HIV.

Luka dapat mengalami perdarahan dengan mudah sehingga mempermudah masuknya virus HIV ke dalam aliran darah selama hubungan seksual.

>> Konsultasi Online Gratis di Sini <<

Pencegahan

Infeksi ini harus dicegah karena sangat berbahaya, terutama dampak yang terasa akibat kerusakan organ tubuh. Kelainan atau kerusakan (komplikasi) bisa terjadi apabila tidak melangsungkan perawatan.

Berikut adalah pencegahan yang bisa dilakukan:

  1. Mengurangi risiko infeksi dengan memakai kondom sewaktu berhubungan seksual. Pilihlah ukuran yang tepat sesuai organ kelamin Anda.
  2. Menghindari alkohol dan obat-obatan terlarang karena kedua unsur ini dapat melemahkan kekebalan tubuh.
  3. Melakukan hubungan intim dengan hanya satu pasangan atau sistem monogami.
  4. Tidak melakukan hubungan badan dengan individu yang senang berganti-ganti pasangan seksual.
  5. Saling terbuka kepada pasangan. Dengan menjalin komunikasi yang baik, risiko terkena penyakit ini akan berkurang.
  6. Menghindari penggunaan jamur suntik yang terpakai oleh orang lain. Artinya, Anda harus menggunakan jarum suntik yang steril. Contoh-contoh jarum yang menjadi media penularan, yaitu jarum tato, medis, dan akupuntur.
  7. Menghentikan aktivitas seksual apabila Anda menemukan luka terbuka di tubuh.

Dengan mengetahui pencegahan terhadap kondisi ini, Anda dapat menghindari penyakit sifilis. Orang yang terinfeksi memang bisa pulih dari kondisi klinis ini. Namun, bukan berarti kita boleh meremehkan penyakit menular seksual.