Diagnosis Herpes Genital: Pemeriksaan dan Tes yang Dilakukan

Klinik Apollo – Herpes genital merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV), terutama HSV-2, tetapi HSV-1 juga dapat menyebabkan herpes pada area genital.
Gejalanya dapat berupa lepuhan atau luka yang terasa nyeri, tetapi sebagian orang hanya mengalami gejala ringan sehingga sering mengira keluhannya sebagai iritasi, sariawan genital, atau kondisi kulit lainnya.
Karena tampilan herpes genital dapat menyerupai beberapa penyakit lain, diagnosis tidak selalu cukup hanya berdasarkan melihat gejala.
Dokter ahli dapat mempertimbangkan pemeriksaan fisik dan, bila di perlukan, pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah luka di sebabkan oleh HSV.
- Apa Itu Diagnosis Herpes Genital?
- Ciri Herpes Genital yang Perlu Diperhatikan
- Bagaimana Cara Dokter Mendiagnosis Herpes Genital?
- Apakah Herpes Genital Bisa Didiagnosis Tanpa Luka?
- Apakah Herpes Genital Bisa Salah Diagnosis?
- Kapan Sebaiknya Melakukan Tes Herpes Genital?
- Bagaimana Jika Hasil Tes Herpes Positif?
- Apakah Hasil Tes Negatif Berarti Pasti Tidak Ada Herpes?
- Diagnosis Herpes Genital pada Ibu Hamil
- Mengapa Diagnosis yang Tepat Penting?
- Kesimpulan
Apa Itu Diagnosis Herpes Genital?
Diagnosis herpes genital adalah proses untuk menentukan apakah keluhan pada area genital memang di sebabkan oleh infeksi HSV.
Dokter ahli biasanya mempertimbangkan:
- Bentuk dan lokasi luka atau lepuhan.
- Kapan gejala mulai muncul.
- Apakah luka terasa nyeri, gatal, terbakar, atau kesemutan.
- Apakah keluhan pernah muncul sebelumnya.
- Riwayat kontak seksual dan kemungkinan paparan IMS (infeksi menular seksual).
- Hasil pemeriksaan laboratorium jika di perlukan.
Hal ini penting karena diagnosis hanya berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik dapat kurang akurat, terutama jika bentuk luka tidak khas.
CDC merekomendasikan evaluasi lebih lanjut pada orang dengan luka genital.
Ciri Herpes Genital yang Perlu Diperhatikan
Herpes genital dapat menimbulkan beberapa gejala, tetapi tidak semua orang mengalami tanda yang sama.
Gejala yang dapat muncul antara lain:
- Lepuhan kecil berisi cairan.
- Lepuhan pecah kemudian menjadi luka.
- Rasa nyeri atau terbakar pada area genital.
- Gatal atau kesemutan sebelum luka muncul.
- Nyeri saat kencing.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Demam atau rasa tidak enak badan, terutama pada episode pertama.
Pada sebagian orang, gejalanya sangat ringan atau bahkan tidak di sadari.
Karena itu, tidak adanya lepuhan bukan berarti seseorang pasti bebas dari HSV.
Bagaimana Cara Dokter Mendiagnosis Herpes Genital?
Berikut cara mendiagnosisnya:
1. Pemeriksaan Fisik
Langkah pertama biasanya berupa pemeriksaan langsung terhadap area yang mengalami keluhan.
Dokter ahli akan melihat karakteristik luka, lepuhan, kemerahan, atau perubahan kulit.
Dokter ahli juga dapat menanyakan apakah keluhan muncul pertama kali atau pernah berulang (kambuh).
Jika terdapat luka yang khas, pemeriksaan fisik dapat memberikan petunjuk penting.
Namun, apabila bentuknya tidak jelas, dokter ahli dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium.
2. Tes PCR atau NAAT dari Sampel Luka
Jika terdapat lepuhan atau luka yang masih aktif, dokter ahli dapat mengambil sampel dari area tersebut untuk pemeriksaan NAAT (nucleic acid amplification test), termasuk PCR.
Pemeriksaan ini mendeteksi materi genetik HSV dan dapat menentukan apakah sampel mengandung HSV-1 atau HSV-2.
CDC menyebut NAAT dari luka genital sebagai salah satu pemeriksaan yang di gunakan untuk diagnosis herpes genital.
Secara praktis, pemeriksaan dari luka aktif sering menjadi pilihan penting karena sampel di ambil langsung dari lokasi kelainan.
Kapan pemeriksaan ini di lakukan?
Biasanya ketika terdapat:
- Lepuhan baru.
- Luka genital.
- Luka yang terasa nyeri.
- Luka yang di curigai sebagai herpes.
Karena itu, apabila muncul luka atau lepuhan yang mencurigakan, sebaiknya jangan menunggu sampai semuanya sembuh sebelum berkonsultasi.
3. Kultur Virus
Dokter ahli atau laboratorium juga dapat menggunakan kultur virus dari sampel luka.
Namun, CDC menjelaskan bahwa sensitivitas kultur lebih rendah di bandingkan NAAT dan semakin menurun ketika luka mulai mengalami penyembuhan.
Artinya, hasil negatif dari kultur tidak selalu berarti seseorang pasti tidak mengalami herpes, terutama jika luka sudah mulai mengering.
Karena itu, dokter ahli akan mempertimbangkan kondisi luka dan jenis pemeriksaan yang tersedia.
4. Tes Darah Antibodi HSV
Selain mengambil sampel dari luka, dokter ahli dapat mempertimbangkan tes serologi tipe-spesifik untuk mendeteksi antibodi terhadap HSV.
Tes ini terutama dapat di pertimbangkan pada situasi tertentu, misalnya ketika seseorang memiliki gejala atau riwayat yang mengarah ke herpes tetapi tidak memiliki luka yang dapat di ambil sampelnya.
Namun, tes darah memiliki keterbatasan yang perlu di pahami.
Apakah Tes Darah HSV Selalu Akurat?
Tidak selalu.
Pada orang tanpa gejala, penggunaan tes serologi secara rutin dapat menghasilkan hasil positif palsu.
Karena itu, USPSTF tidak merekomendasikan skrining serologi rutin untuk herpes genital pada remaja dan orang dewasa tanpa gejala atau riwayat herpes yang di ketahui.
Selain itu, antibodi HSV-1 tidak dapat menunjukkan apakah infeksi berada di mulut atau area genital.
Hal ini menjadi salah satu keterbatasan tes darah untuk menentukan lokasi infeksi.
Dengan demikian, dokter ahli perlu melihat konteks klinis dan tujuan pemeriksaan, bukan hanya angka hasil laboratorium.
5. Pemeriksaan untuk IMS Lain
Ketika seseorang mengalami luka atau ulkus genital, dokter ahli mungkin tidak hanya mempertimbangkan herpes.
Beberapa penyakit lain juga dapat menyebabkan luka genital, termasuk sifilis (raja singa).
Oleh karena itu, CDC merekomendasikan evaluasi yang dapat mencakup pemeriksaan sifilis (raja singa) dan pemeriksaan HSV sesuai kondisi pasien.
Dokter ahli juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) lain seperti gonore (kencing nanah), klamidia, atau HIV berdasarkan riwayat dan faktor risiko.
Hal ini penting karena satu gejala dapat memiliki beberapa kemungkinan penyebab.
Apakah Herpes Genital Bisa Didiagnosis Tanpa Luka?
Bisa di lakukan dalam situasi tertentu, tetapi prosesnya lebih kompleks.
Jika tidak terdapat luka atau lepuhan yang dapat di ambil sampelnya, dokter ahli dapat mempertimbangkan tes antibodi tipe-spesifik berdasarkan gejala, riwayat paparan, atau kondisi tertentu.
Namun, pemeriksaan darah tidak selalu dapat menentukan apakah HSV-1 berada di area genital atau oral.
Selain itu, pemeriksaan serologi rutin pada orang tanpa gejala tidak direkomendasikan karena risiko hasil positif palsu dan manfaat yang terbatas.
Karena itu, jangan melakukan tes HSV secara sembarangan hanya karena khawatir pernah terpapar.
Konsultasi terlebih dahulu membantu menentukan jenis pemeriksaan yang paling relevan.
Apakah Herpes Genital Bisa Salah Diagnosis?
Ya.
Beberapa kondisi dapat terlihat menyerupai herpes genital.
Contohnya:
- Infeksi jamur.
- Iritasi akibat produk tertentu.
- Folikulitis.
- Luka akibat gesekan.
- Sifilis (raja singa).
- Kondisi kulit tertentu.
- Penyebab ulkus genital lainnya.
CDC menyatakan bahwa diagnosis berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik saja dapat tidak akurat pada kasus ulkus genital.
Oleh sebab itu, jika terdapat luka genital yang tidak biasa, pemeriksaan dokter ahli membantu mempersempit kemungkinan penyebab.
Kapan Sebaiknya Melakukan Tes Herpes Genital?
Pertimbangkan konsultasi medis jika Anda mengalami:
- Lepuhan atau luka pada area genital.
- Luka genital yang terasa nyeri.
- Rasa terbakar atau kesemutan sebelum muncul luka.
- Luka yang muncul berulang (kambuh) di lokasi yang sama.
- Nyeri ketika kencing.
- Pasangan seksual memiliki diagnosis herpes genital.
- Keluhan genital yang tidak kunjung membaik.
- Riwayat paparan IMS (infeksi menular seksual) dan muncul gejala setelahnya.
Jika terdapat lepuhan atau luka yang masih aktif, jangan menunda pemeriksaan.
Sampel dari luka dapat membantu dokter ahli menentukan apakah terdapat HSV dan tipe virus yang terdeteksi.
Bagaimana Jika Hasil Tes Herpes Positif?
Hasil positif menunjukkan adanya bukti infeksi HSV sesuai jenis pemeriksaan yang di lakukan.
Dokter ahli kemudian akan menjelaskan makna hasil tersebut dan menentukan penanganan berdasarkan gejala serta kondisi pasien.
Herpes genital merupakan infeksi yang dapat menetap di dalam tubuh.
Saat ini belum tersedia obat-obatan yang menghilangkan HSV secara permanen, tetapi obat antivirus dapat membantu mengurangi durasi dan keparahan gejala serta menurunkan frekuensi kekambuhan pada sebagian pasien.
Pasien juga dapat memperoleh edukasi mengenai cara mengurangi risiko penularan kepada pasangan seksual.
Apakah Hasil Tes Negatif Berarti Pasti Tidak Ada Herpes?
Tidak selalu.
Interpretasi hasil bergantung pada jenis pemeriksaan, waktu pemeriksaan, dan kondisi saat sampel di ambil.
Misalnya, kultur dari luka yang sudah mulai sembuh memiliki sensitivitas lebih rendah.
Karena itu, hasil negatif perlu di baca bersama kondisi klinis pasien.
Jika gejala tetap mencurigakan, dokter ahli dapat mempertimbangkan pemeriksaan atau evaluasi lanjutan.
Diagnosis Herpes Genital pada Ibu Hamil
Kehamilan membutuhkan perhatian khusus jika terdapat riwayat atau gejala herpes genital.
HSV dapat di tularkan dari ibu kepada bayi, terutama ketika infeksi genital aktif terjadi menjelang atau saat persalinan pervaginam.
Karena itu, ibu hamil yang memiliki riwayat herpes genital atau mengalami luka genital perlu memberitahukannya kepada dokter ahli atau dokter ginekologi.
USPSTF juga tidak merekomendasikan skrining serologi rutin pada ibu hamil yang tidak memiliki gejala atau riwayat herpes, sementara kondisi dengan gejala atau riwayat yang mengarah pada HSV perlu di nilai secara individual.
Mengapa Diagnosis yang Tepat Penting?
Diagnosis yang tepat membantu dokter ahli:
- Memastikan apakah luka berkaitan dengan HSV.
- Membedakan herpes dari penyebab luka genital lainnya.
- Menentukan apakah pemeriksaan laboratorium di perlukan.
- Memilih terapi yang sesuai jika diagnosis terkonfirmasi.
- Memberikan edukasi mengenai kekambuhan dan penularan.
- Menilai apakah pasien membutuhkan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) lainnya.
Dengan demikian, jangan hanya mengandalkan foto dari internet atau mencocokkan bentuk luka sendiri.
Tampilan beberapa penyakit genital dapat terlihat serupa.
Kesimpulan
Diagnosis herpes genital dapat di lakukan melalui pemeriksaan fisik dan, bila di perlukan, pemeriksaan laboratorium seperti PCR atau NAAT dari luka, kultur, atau tes antibodi tipe-spesifik.
Pemeriksaan dari luka aktif dapat membantu mendeteksi HSV-1 atau HSV-2, sedangkan tes darah memiliki keterbatasan dan tidak di anjurkan sebagai skrining rutin pada orang tanpa gejala.
Jika Anda mengalami lepuhan, luka, gatal, rasa terbakar, atau keluhan lain pada area genital, konsultasikan dengan dokter ahli di Klinik Apollo.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui penyebab keluhan dengan lebih tepat, menentukan apakah Anda memerlukan tes HSV atau pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) lainnya, serta mendapatkan penanganan dan edukasi yang sesuai dengan kondisi Anda.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta








