Bahaya Herpes Genital pada Ibu Hamil dan Risiko ke Janin

Ilustrasi Herpes Genital pada Ibu Hamil.

Klinik ApolloHerpes genital pada ibu hamil perlu mendapatkan perhatian karena infeksi Herpes Simplex Virus (HSV) dapat menular dari ibu kepada bayi, terutama ketika infeksi baru terjadi mendekati waktu persalinan pervaginam.

Meski demikian, ibu hamil yang memiliki herpes genital tidak berarti pasti mengalami masalah pada kehamilan atau bayinya.

Risiko penularan sangat di pengaruhi oleh kapan infeksi terjadi, apakah merupakan infeksi pertama atau kekambuhan, serta ada tidaknya luka atau gejala herpes ketika persalinan pervaginam.

Karena itu, ibu hamil dengan riwayat herpes genital sebaiknya memberi tahu dokter ahli ginekologi agar kondisi dapat di pantau dan rencana persalinan dapat di tentukan dengan tepat.

Apa Itu Herpes Genital?

Herpes genital merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang di sebabkan oleh HSV, terutama HSV-2, meskipun HSV-1 juga dapat menyebabkan herpes genital.

Virus dapat menular melalui kontak kulit atau mukosa dengan area yang terinfeksi.

Penularan juga dapat terjadi ketika pasangan tidak memiliki luka yang terlihat karena virus dapat di lepaskan dari kulit tanpa gejala.

Gejala herpes genital dapat berupa:

  • Lepuhan kecil berisi cairan di sekitar vagina, vulva, anus, atau bokong.
  • Lepuhan yang kemudian pecah dan menjadi luka.
  • Rasa perih atau terbakar.
  • Gatal atau kesemutan sebelum luka muncul.
  • Nyeri ketika kencing.
  • Demam dan tubuh terasa tidak enak pada infeksi pertama.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Namun, sebagian orang dapat mengalami gejala ringan atau bahkan tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Apakah Herpes Genital Berbahaya Saat Hamil?

Herpes genital perlu di perhatikan selama kehamilan terutama karena adanya kemungkinan penularan HSV kepada bayi (herpes neonatal).

Risiko tersebut tidak sama pada setiap ibu.

Menurut pedoman CDC, risiko penularan kepada bayi di perkirakan 30 hingga 50% pada wanita yang mendapatkan infeksi genital baru mendekati waktu persalinan pervaginam, sedangkan risikonya jauh lebih rendah, yaitu <1%, pada wanita dengan riwayat herpes berulang (kambuh) atau yang mendapatkan infeksi pada paruh pertama kehamilan.

Oleh sebab itu, waktu terjadinya infeksi menjadi salah satu informasi penting yang perlu di ketahui dokter ahli.

Risiko Herpes Genital pada Janin dan Bayi

Berikut risikonya:

1. Herpes Neonatal

Komplikasi yang paling di khawatirkan adalah herpes neonatal, yaitu infeksi HSV pada bayi baru lahir.

Infeksi dapat terjadi terutama ketika bayi bersentuhan dengan virus saat melewati jalan lahir.

Herpes neonatal dapat mengenai kulit dan mata, tetapi pada kasus tertentu infeksi dapat menyebar ke organ tubuh atau sistem saraf pusat dan menjadi kondisi serius.

Karena itu, dokter ahli akan menilai kondisi ibu menjelang dan ketika persalinan pervaginam.

2. Risiko Lebih Tinggi Jika Infeksi Baru Terjadi Menjelang Persalinan

Infeksi herpes genital yang baru di peroleh pada akhir kehamilan menjadi perhatian khusus karena tubuh ibu mungkin belum memiliki respons antibodi yang optimal terhadap infeksi tersebut.

CDC merekomendasikan pengelolaan bersama dokter ahli spesialis fetomaternal dan spesialis penyakit infeksi pada wanita yang memperoleh HSV pada paruh kedua kehamilan.

3. Tidak Semua Kasus Menyebabkan Masalah pada Bayi

Memiliki herpes genital tidak otomatis berarti bayi akan tertular.

Risiko sangat di pengaruhi oleh kondisi infeksi ibu, terutama apakah infeksi baru atau berulang (kambuh) serta apakah terdapat luka atau gejala herpes ketika persalinan pervaginam berlangsung.

Karena itu, ibu tidak perlu langsung panik ketika mengetahui dirinya memiliki HSV.

Yang lebih penting adalah segera memberi tahu dokter ahli dan mengikuti pemantauan selama kehamilan.

Apakah Herpes Genital Bisa Menyebabkan Keguguran?

Herpes genital selama kehamilan tidak dapat langsung di anggap sebagai penyebab keguguran.

Risiko dan komplikasi sangat bergantung pada waktu infeksi, kondisi ibu, serta adanya komplikasi lain.

Karena itu, jika ibu hamil mengalami luka atau lepuhan yang mencurigakan, pemeriksaan dokter ahli di perlukan untuk memastikan penyebabnya.

Jangan menyimpulkan penyebab komplikasi kehamilan hanya berdasarkan adanya herpes tanpa pemeriksaan medis.

Bagaimana Herpes Genital Didiagnosis pada Ibu Hamil?

Dokter ahli dapat melakukan pemeriksaan berdasarkan kondisi luka atau lepuhan yang terlihat.

Jika terdapat luka, dokter ahli dapat mengambil sampel dari luka untuk pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan yang dapat mendeteksi HSV.

Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan darah untuk antibodi HSV juga dapat membantu.

Namun, skrining HSV-2 secara rutin pada ibu hamil tanpa gejala tidak direkomendasikan.

Pemeriksaan serologi tipe-spesifik dapat di pertimbangkan dalam situasi tertentu, misalnya untuk membantu menilai risiko seorang wanita yang pasangannya di ketahui memiliki HSV.

Bagaimana Pengobatan Herpes Genital Saat Hamil?

Dokter ahli dapat menggunakan obat-obatan antivirus untuk menangani herpes genital selama kehamilan berdasarkan kondisi pasien.

Salah satu antivirus yang telah banyak di gunakan.

Dokter ahli juga dapat mempertimbangkan terapi antivirus supresif menjelang persalinan pervaginam pada wanita dengan herpes genital berulang (kambuh).

CDC merekomendasikan terapi supresif mulai usia kehamilan 36 minggu pada kondisi yang sesuai.

Jangan membeli atau mengonsumsi obat-obatan antivirus sendiri selama kehamilan.

Jenis obat-obatan, dosis, dan lama terapi harus di tentukan dokter ahli berdasarkan kondisi ibu dan usia kehamilan.

Apakah Ibu dengan Herpes Genital Harus Melahirkan Caesar?

Tidak selalu.

Menjelang persalinan, dokter ahli akan menanyakan apakah ibu mengalami gejala herpes dan memeriksa adanya luka genital.

Menurut CDC, wanita yang tidak memiliki gejala, tanda herpes, atau gejala awal (prodromal) ketika persalinan dapat melahirkan secara vaginal.

Sebaliknya, jika terdapat luka herpes genital berulang (kambuh) ketika persalinan di mulai, persalinan melalui operasi caesar di rekomendasikan untuk mengurangi risiko penularan HSV kepada bayi.

Operasi caesar juga tidak menghilangkan risiko penularan sepenuhnya, sehingga dokter ahli tetap perlu melakukan penilaian secara menyeluruh.

Bagaimana Mencegah Penularan Herpes Selama Kehamilan?

Beberapa langkah dapat membantu menurunkan risiko mendapatkan atau menularkan HSV selama kehamilan:

  • Beri tahu dokter ahli jika memiliki riwayat herpes genital.
  • Hindari hubungan seksual ketika pasangan sedang mengalami luka atau gejala herpes.
  • Jika pasangan seksual di ketahui memiliki herpes genital, diskusikan langkah pencegahan dengan dokter ahli.
  • Pada trimester ketiga, wanita tanpa riwayat herpes genital di anjurkan menghindari hubungan vaginal dengan pasangan seksual yang di ketahui atau di curigai memiliki herpes genital.
  • Jika pasangan seksual memiliki herpes oral dan ibu belum pernah mengalami herpes oral, CDC juga menganjurkan menghindari seks oral reseptif pada trimester ketiga untuk mengurangi risiko HSV-1 genital.

Penggunaan kondom (pengaman atau pelindung) dapat membantu mengurangi risiko penularan, tetapi tidak memberikan perlindungan 100%, karena HSV dapat berada pada area kulit yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).

Kapan Ibu Hamil Harus Segera Memeriksakan Diri?

Segera konsultasikan kepada dokter ahli apabila saat hamil muncul:

  • Lepuhan atau luka baru di sekitar vagina.
  • Luka terasa perih atau terbakar.
  • Kesemutan atau rasa terbakar sebelum muncul luka.
  • Nyeri saat kencing.
  • Demam atau tubuh terasa sangat tidak enak.
  • Pasangan seksual di ketahui memiliki herpes genital.
  • Anda memiliki riwayat herpes genital dan mendekati waktu persalinan.
  • Muncul luka genital ketika persalinan sudah di mulai.

Semakin jelas informasi mengenai riwayat infeksi, waktu munculnya gejala, dan kondisi luka, semakin mudah dokter ahli menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Apakah Herpes Genital Bisa Sembuh Total?

Saat ini, obat-obatan antivirus dapat mengendalikan gejala dan mengurangi kekambuhan, tetapi tidak menghilangkan HSV yang sudah menetap di dalam tubuh.

Virus dapat tetap berada dalam kondisi laten dan kembali aktif pada waktu tertentu.

Karena itu, tujuan pengobatan bukan sekadar menghilangkan luka, tetapi juga membantu mengendalikan gejala, mengurangi kekambuhan, dan dalam kondisi tertentu membantu menurunkan risiko penularan.

Kesimpulan

Herpes genital pada ibu hamil membutuhkan perhatian medis, tetapi diagnosis herpes tidak berarti kehamilan pasti bermasalah. Risiko terhadap bayi terutama menjadi perhatian ketika ibu mengalami infeksi genital baru mendekati persalinan.

Dengan pemeriksaan dan pemantauan yang tepat, dokter ahli dapat menentukan terapi antivirus yang sesuai serta mengevaluasi kondisi ibu menjelang persalinan. Pemeriksaan pada awal persalinan juga penting untuk mengetahui apakah terdapat luka atau gejala herpes yang dapat meningkatkan risiko penularan kepada bayi.

Jika Anda sedang hamil dan mengalami lepuhan, luka, gatal, perih, atau gejala yang mengarah pada herpes genital, segera konsultasikan dengan dokter ahli di Klinik Apollo.

Anda dapat memperoleh pemeriksaan untuk membantu memastikan penyebab keluhan, mendapatkan penanganan yang di sesuaikan dengan kondisi kehamilan, serta memperoleh pemantauan medis untuk membantu menjaga kesehatan ibu dan bayi.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.