Apakah Herpes Menular ke Bayi? Ini Cara Mencegahnya

Klinik Apollo – Apakah herpes menular ke bayi? Ya, herpes simplex virus (HSV) dapat menular dari ibu kepada bayi, terutama saat proses persalinan pervaginam ketika bayi melewati jalan lahir yang terpapar virus.
Kondisi ini di sebut herpes neonatal. Meskipun herpes neonatal tergolong jarang, infeksi ini perlu di perhatikan karena dapat menyebabkan penyakit serius pada bayi. WHO memperkirakan herpes neonatal terjadi sekitar 10 dari setiap 100.000 kelahiran secara global.
Risiko paling tinggi terjadi ketika ibu mengalami infeksi herpes genital pertama kali mendekati waktu persalinan pervaginam.
Karena itu, ibu hamil yang memiliki riwayat herpes genital sebaiknya memberi tahu dokter ahli atau bidan agar risiko penularan dapat di nilai dan langkah pencegahan dapat di persiapkan.
- Apa Itu Herpes?
- Apakah Herpes Menular ke Bayi Saat Hamil?
- Mengapa Infeksi Baru Menjelang Persalinan Lebih Berisiko?
- Apakah Herpes yang Sudah Lama Juga Bisa Menular ke Bayi?
- Ciri Herpes pada Ibu Hamil
- Apa Itu Herpes Neonatal?
- Bagaimana Cara Mencegah Herpes Menular ke Bayi?
- Apakah Ibu dengan Herpes Bisa Melahirkan Normal?
- Bagaimana Jika Herpes Baru Muncul Menjelang Persalinan?
- Apakah Bayi Bisa Tertular Herpes Setelah Lahir?
- Kapan Bayi Perlu Segera Diperiksa?
- Kesimpulan
Apa Itu Herpes?
Herpes di sebabkan oleh herpes simplex virus (HSV). 2 jenis utama HSV adalah HSV-1 dan HSV-2.
HSV-1 lebih sering menyebabkan herpes oral atau luka lepuh di sekitar mulut, sedangkan HSV-2 lebih sering berkaitan dengan herpes genital.
Namun, HSV-1 juga dapat menyebabkan herpes genital, misalnya melalui kontak oral genital. Virus dapat menular melalui kontak langsung dengan kulit, luka, cairan tubuh, atau area yang terinfeksi.
Bahkan, penularan masih dapat terjadi ketika tidak terdapat luka yang terlihat karena virus dapat mengalami pelepasan tanpa gejala.
Apakah Herpes Menular ke Bayi Saat Hamil?
Bisa, tetapi risiko penularannya bergantung pada kapan ibu mendapatkan infeksi dan kondisi herpes saat persalinan pervaginam.
Penularan HSV dari ibu ke bayi dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, tetapi penularan saat persalinan pervaginam merupakan jalur yang paling penting dalam herpes neonatal.
Bayi dapat terpapar virus ketika melewati jalan lahir yang mengandung HSV. Risiko menjadi jauh lebih tinggi apabila ibu baru mengalami herpes genital untuk pertama kalinya menjelang persalinan pervaginam.
Menurut pedoman CDC, risiko penularan kepada bayi dapat mencapai sekitar 30 hingga 50% ketika ibu memperoleh infeksi genital dekat waktu persalinan pervaginam. Sebaliknya, risikonya kurang dari 1% pada ibu dengan riwayat herpes berulang atau yang mengalami infeksi pada paruh pertama kehamilan.
Mengapa Infeksi Baru Menjelang Persalinan Lebih Berisiko?
Ketika infeksi HSV baru terjadi menjelang persalinan, tubuh ibu belum memiliki waktu yang cukup untuk membentuk antibodi yang dapat memberikan perlindungan kepada bayi.
Selain itu, virus dapat berada di area genital ketika persalinan berlangsung sehingga bayi berpotensi mengalami kontak langsung dengan HSV.
Oleh sebab itu, mencegah infeksi herpes baru pada trimester akhir kehamilan sangat penting.
Apakah Herpes yang Sudah Lama Juga Bisa Menular ke Bayi?
Ya, tetapi risikonya umumnya jauh lebih rendah di bandingkan infeksi baru yang terjadi mendekati persalinan pervaginam.
Ibu yang sudah mempunyai herpes genital berulang (kambuh) memiliki risiko penularan yang jauh lebih rendah karena antibodi terhadap HSV telah terbentuk.
CDC memperkirakan risiko pada kondisi tersebut kurang dari 1%. Namun, risiko bukan berarti menjadi nol.
Karena itu, dokter ahli tetap perlu mengetahui riwayat herpes dan memeriksa adanya luka atau gejala menjelang persalinan pervaginam.
Ciri Herpes pada Ibu Hamil
Gejala herpes genital dapat berbeda pada setiap orang.
Beberapa tanda yang dapat muncul meliputi:
- Lepuhan kecil berisi cairan di area genital.
- Luka atau ulkus yang terasa nyeri.
- Rasa terbakar atau kesemutan sebelum luka muncul.
- Gatal atau nyeri pada area genital.
- Nyeri saat kencing.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Demam atau rasa tidak enak badan pada infeksi pertama.
Namun, tidak semua penderita herpes mengalami gejala yang jelas.
HSV juga dapat menular ketika kulit tampak normal.
Karena itu, jika muncul luka atau lepuhan yang mencurigakan selama kehamilan, jangan langsung menganggapnya sebagai iritasi biasa.
Apa Itu Herpes Neonatal?
Herpes neonatal adalah infeksi HSV pada bayi baru lahir.
Infeksi ini memang jarang terjadi, tetapi dapat berkembang menjadi kondisi serius.
WHO menyebut herpes neonatal dapat menyebabkan gangguan neurologis jangka panjang bahkan kematian apabila terjadi infeksi berat.
Herpes neonatal dapat menyerang:
- Kulit,
- Mata,
- Mulut,
- Sistem saraf, atau
- Berbagai organ tubuh pada infeksi yang menyebar.
Karena itu, bayi yang di ketahui terpapar HSV saat persalinan pervainam membutuhkan pemantauan dan evaluasi medis yang tepat.
CDC merekomendasikan evaluasi klinis dengan melibatkan dokter ahli atau spesialis yang sesuai pada bayi yang di ketahui atau diduga terpapar HSV saat lahir.
Bagaimana Cara Mencegah Herpes Menular ke Bayi?
Pencegahan sebaiknya di mulai sejak kehamilan.
1. Beri tahu dokter ahli jika memiliki riwayat herpes
Jangan menyembunyikan riwayat herpes genital dari dokter ahli kandungan.
Informasi tersebut membantu dokter menentukan strategi pencegahan menjelang persalinan pervaginam.
2. Hindari mendapatkan infeksi HSV baru selama kehamilan
Risiko herpes neonatal paling tinggi ketika ibu mendapatkan infeksi genital pertama kali pada akhir kehamilan.
Jika pasangan seksual di ketahui memiliki herpes genital, diskusikan cara mengurangi risiko penularan selama kehamilan.
CDC juga merekomendasikan agar ibu hamil yang tidak memiliki herpes genital menghindari hubungan seksual dengan pasangan yang di ketahui atau di curigai mengalami herpes genital selama trimester ketiga.
3. Hindari hubungan seksual ketika pasangan mengalami gejala herpes
Luka, lepuhan, atau gejala awal seperti rasa terbakar dan kesemutan dapat menunjukkan periode infeksi yang lebih menular.
WHO menyarankan menghindari aktivitas seksual ketika gejala herpes muncul dan menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) untuk membantu mengurangi risiko penularan.
Namun, kondom (pengaman atau pelindung) tidak menghilangkan seluruh risiko, karena HSV dapat berada pada area kulit yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).
4. Berhati-hati terhadap herpes oral
HSV-1 juga dapat menyebabkan herpes genital melalui aktivitas oral genital.
Karena itu, ibu hamil yang tidak memiliki herpes oral perlu berhati-hati terhadap paparan dari pasanganseksual yang memiliki herpes oral, terutama pada trimester ketiga.
5. Ikuti pengobatan dokter ahli
Obat-obatan antivirus dapat di gunakan dalam situasi tertentu untuk membantu mengendalikan herpes.
Pada ibu dengan herpes genital berulang, CDC mencantumkan terapi supresif mulai sekitar usia kehamilan 36 minggu sebagai salah satu strategi yang dapat di pertimbangkan dokter ahli.
Jangan mengonsumsi obat-obatan antivirus selama kehamilan tanpa konsultasi dengan dokter ahli.
Dokter ahli akan mempertimbangkan usia kehamilan, riwayat infeksi, gejala, serta kondisi ibu dan janin.
Apakah Ibu dengan Herpes Bisa Melahirkan Normal?
Bisa, tergantung kondisi saat persalinan pervaginam.
CDC menyatakan bahwa ibu dengan riwayat herpes tetapi tidak memiliki tanda, gejala, atau luka herpes genital saat melahirkan dapat menjalani persalinan pervaginam.
Sebaliknya, apabila terdapat luka herpes genital berulang (kambuh) saat persalinan pervaginam, dokter ahli dapat merekomendasikan operasi caesar untuk mengurangi risiko bayi terpapar HSV.
Namun, operasi caesar tidak menghilangkan risiko penularan sepenuhnya. Keputusan mengenai metode persalinan pervaginam harus di buat oleh dokter ahli berdasarkan kondisi ibu dan bayi.
Bagaimana Jika Herpes Baru Muncul Menjelang Persalinan?
Kondisi ini membutuhkan perhatian medis segera.
Infeksi herpes genital yang baru terjadi mendekati waktu persalinan pervaginam memiliki risiko penularan yang jauh lebih tinggi di bandingkan herpes yang sudah lama dan berulang (kambuh).
CDC merekomendasikan pengelolaan kasus seperti ini dengan melibatkan dokter ahli yang berpengalaman dalam kehamilan berisiko dan penyakit infeksi.
Jadi, jangan menunggu sampai persalinan jika tiba-tiba muncul lepuhan, luka, rasa terbakar, atau nyeri pada area genital.
Apakah Bayi Bisa Tertular Herpes Setelah Lahir?
Ya. Penularan tidak hanya perlu di perhatikan selama proses persalinan pervaginam.
HSV-1, misalnya, dapat menyebar melalui kontak dengan luka herpes oral, saliva, atau kulit yang terinfeksi.
Karena itu, seseorang yang sedang mengalami cold sore atau luka herpes di sekitar mulut sebaiknya menghindari mencium bayi dan kontak langsung dengan area luka.
Orang yang memiliki luka herpes juga perlu menjaga kebersihan tangan dan menghindari menyentuh luka kemudian menyentuh bayi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Kapan Bayi Perlu Segera Diperiksa?
Jika bayi baru lahir di ketahui terpapar HSV atau menunjukkan gejala yang mencurigakan, segera cari pertolongan medis.
Beberapa tanda yang perlu di waspadai antara lain:
- Muncul lepuhan atau luka pada kulit,
- Demam,
- Bayi tampak sangat lemas,
- Sulit menyusu,
- Mudah rewel,
- Kejang,
- Gangguan pernapasan, atau
- Perubahan kesadaran.
Herpes neonatal dapat berkembang menjadi penyakit berat, sehingga penanganan sedini mungkin sangat penting.
Kesimpulan
Jadi, apakah herpes menular ke bayi? Ya. Herpes dapat di tularkan dari ibu kepada bayi, terutama ketika bayi terpapar HSV selama proses persalinan pervaginam. Risiko paling tinggi terjadi jika ibu baru mengalami herpes genital untuk pertama kalinya menjelang persalinan pervaginam.
Sebaliknya, ibu dengan herpes yang sudah lama dan berulang (kambuh) umumnya memiliki risiko penularan yang jauh lebih rendah.
Kabar baiknya, risiko herpes neonatal dapat di kurangi melalui pemeriksaan kehamilan yang tepat, pemberitahuan riwayat herpes kepada dokter ahli, pencegahan infeksi baru selama kehamilan, pengobatan sesuai indikasi, serta perencanaan persalinan pervaginam berdasarkan kondisi ibu dan bayi.
Jika Anda sedang hamil dan memiliki riwayat herpes genital, mengalami luka atau lepuhan pada area kelamin, atau khawatir herpes menular ke bayi, segera konsultasikan ke Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan evaluasi medis, pemeriksaan yang sesuai, pilihan penanganan berdasarkan kondisi Anda, serta pendampingan yang mengutamakan privasi pasien.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta








