Hubungan HPV dan Kanker Serviks yang Wajib Diketahui

Ilustrasi HPV dan Kanker Serviks.

Klinik Apollo – Infeksi human papilloma virus (HPV) merupakan faktor utama penyebab kanker serviks. Namun, memiliki HPV tidak berarti seseorang pasti akan mengalami kanker serviks.

Sebagian besar infeksi HPV dapat di kendalikan oleh sistem kekebalan tubuh dan menghilang dengan sendirinya. Masalah muncul ketika HPV risiko tinggi menetap dalam tubuh selama bertahun-tahun.

Infeksi yang persisten dapat menyebabkan perubahan sel pada leher rahim yang kemudian berkembang menjadi luka prakanker dan, jika tidak di temukan serta di tangani, dapat berkembang menjadi kanker serviks.

Karena itu, memahami hubungan HPV dan kanker serviks penting agar pencegahan, vaksinasi, dan pemeriksaan dapat di lakukan sejak dini.

Apa Itu HPV?

HPV atau Human Papilloma Virus adalah kelompok virus yang dapat menginfeksi kulit, area genital, anus, serta beberapa bagian mulut dan tenggorokan.

HPV sangat umum dan terutama menular melalui kontak seksual atau kontak kulit dengan kulit pada area genital.

Seseorang juga dapat terinfeksi tanpa mengalami gejala sehingga tidak menyadari bahwa dirinya membawa virus. Terdapat sekitar 200 jenis HPV yang telah di ketahui.

Sebagian termasuk tipe berisiko rendah dan dapat menyebabkan kutil kelamin, sedangkan beberapa tipe lainnya termasuk HPV risiko tinggi (high-risk HPV) yang berhubungan dengan kanker.

Apa Hubungan HPV dan Kanker Serviks?

Hubungannya sangat erat. Hampir semua kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV risiko tinggi. WHO menyebut sekitar 99% kasus kanker serviks berhubungan dengan infeksi HPV genital berisiko tinggi. Namun, proses tersebut biasanya tidak terjadi secara langsung.

Secara sederhana, perkembangannya dapat di gambarkan sebagai: HPV risiko tinggi → infeksi menetap → perubahan sel serviks → luka prakanker → kanker serviks Sebagian besar infeksi HPV justru tidak berkembang menjadi kanker.

Sistem kekebalan tubuh dapat mengendalikan sekitar 90% infeksi HPV, dan banyak infeksi menghilang dalam 1 hingga 2 tahun. Jika infeksi HPV risiko tinggi menetap, virus dapat menyebabkan perubahan pada sel leher rahim. Tanpa deteksi dan penanganan, perubahan tersebut dapat berkembang menjadi kanker dalam jangka panjang.

WHO memperkirakan proses perubahan sel abnormal (tidak normal) menjadi kanker serviks umumnya membutuhkan sekitar 15 hingga 20 tahun, meskipun prosesnya dapat berlangsung lebih cepat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Jenis HPV yang Berisiko Menyebabkan Kanker Serviks

Tidak semua HPV memiliki risiko yang sama. 2 tipe yang paling di kenal adalah:

1. HPV 16

HPV tipe 16 termasuk tipe berisiko tinggi dan merupakan salah satu penyebab utama kanker serviks.

2. HPV 18

HPV tipe 18 juga termasuk HPV risiko tinggi dan berperan besar dalam terjadinya kanker serviks.

Menurut National Cancer Institute, HPV 16 dan HPV 18 secara bersama-sama menyebabkan sekitar 70% kanker serviks di seluruh dunia.

Selain kedua tipe tersebut, beberapa tipe HPV risiko tinggi lainnya juga dapat menyebabkan perubahan prakanker, seperti HPV 31, 33, 45, 52, dan 58.

Jadi, hasil tes HPV positif tidak selalu berarti HPV 16 atau 18, karena terdapat berbagai tipe HPV lain yang juga perlu di perhatikan.

Apakah Semua Orang yang Terinfeksi HPV Akan Terkena Kanker Serviks?

Tidak.

Ini merupakan salah satu hal terpenting yang perlu di pahami.

Infeksi HPV sangat umum, sementara kanker serviks hanya berkembang pada sebagian kecil orang dengan infeksi HPV yang menetap.

Sebagian besar infeksi dapat di kendalikan tubuh dalam 1 hingga 2 tahun. Risiko menjadi lebih serius ketika:

  • HPV risiko tinggi menetap dalam waktu lama.
  • Perubahan sel prakanker tidak terdeteksi.
  • Pemeriksaan serviks tidak di lakukan secara rutin.
  • Sistem kekebalan tubuh melemah.
  • Terdapat faktor risiko lain seperti merokok.
  • Terdapat infeksi menular seksual (IMS) tertentu.
  • Penanganan luka prakanker terlambat.

Karena itu, HPV positif bukan diagnosis kanker serviks.

Hasil tersebut menunjukkan adanya infeksi HPV dan perlu di tindaklanjuti sesuai tipe HPV serta hasil pemeriksaan serviks.

Apakah HPV Menimbulkan Gejala?

Sering kali tidak ada gejala. Inilah salah satu alasan mengapa HPV dapat menyebar tanpa di sadari.

Seseorang dapat memiliki HPV selama beberapa waktu tanpa mengalami rasa sakit, keputihan, atau keluhan lain.

Beberapa jenis HPV berisiko rendah dapat menyebabkan kutil kelamin, tetapi HPV risiko tinggi yang berhubungan dengan kanker serviks biasanya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Bahkan, perubahan prakanker pada serviks umumnya tidak menimbulkan gejala. Oleh sebab itu, skrining kanker serviks tetap penting meskipun seseorang merasa sehat.

Gejala Kanker Serviks yang Perlu Diwaspadai

Kanker serviks tahap awal dapat tidak menimbulkan gejala.

Namun, ketika penyakit berkembang, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

  • Perdarahan vagina yang tidak normal (abnormal).
  • Perdarahan setelah berhubungan seksual.
  • Perdarahan setelah menopause.
  • Keputihan yang berubah dan berbau tidak biasa.
  • Nyeri panggul.
  • Nyeri ketika berhubungan seksual.
  • Keluhan berkemih atau buang air besar (BAB) pada penyakit yang lebih lanjut.

Perlu di ingat, gejala tersebut tidak secara otomatis berarti kanker serviks.

Banyak kondisi lain yang dapat menyebabkan keluhan serupa.

Namun, apabila gejala muncul atau menetap, pemeriksaan dokter ahli penting di lakukan.

Data Kanker Serviks yang Perlu Diketahui

Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan global.

WHO memperkirakan terdapat sekitar 604.000 kasus baru kanker serviks dan sekitar 280.000 kematian akibat penyakit ini pada tahun 2024.

Kabar baiknya, kanker serviks termasuk kanker yang sebagian besar dapat di cegah melalui:

  • Vaksinasi HPV.
  • Skrining kanker serviks.
  • Penanganan luka prakanker sejak dini.

WHO bahkan menyebut kanker serviks dapat di cegah dan dapat di sembuhkan jika di temukan pada tahap awal dan di tangani dengan tepat.

Di Indonesia, data yang di kutip WHO dalam peluncuran perluasan imunisasi HPV menunjukkan terdapat sekitar 36.633 kasus kanker serviks pada 2021, dengan sebagian besar kasus berkaitan dengan infeksi HPV.

Bagaimana Cara Mencegah Kanker Serviks?

Berikut cara mencegahnya:

1. Melakukan Vaksinasi HPV

Vaksin HPV merupakan salah satu cara utama untuk mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker.

Vaksin bekerja dengan memberikan perlindungan sebelum seseorang terpapar tipe HPV yang menjadi target vaksin.

Karena itu, vaksinasi paling optimal di berikan sebelum seseorang aktif secara seksual, tetapi kelompok usia lain juga dapat memiliki indikasi vaksinasi sesuai rekomendasi dan kondisi masing-masing.

Penting di pahami bahwa vaksin HPV bukan obat-obatan untuk menghilangkan HPV yang sudah ada.

Vaksin bertujuan mencegah infeksi HPV tertentu dan menurunkan risiko penyakit terkait HPV.

2. Melakukan Skrining Kanker Serviks

Vaksinasi tidak menggantikan skrining.

Skrining bertujuan menemukan perubahan sel serviks atau infeksi HPV berisiko tinggi sebelum berkembang menjadi kanker.

Pemeriksaan yang di gunakan dapat meliputi:

  • Tes HPV.
  • Pap smear.
  • Pemeriksaan lain sesuai pedoman dan kondisi pasien.

Jenis pemeriksaan serta intervalnya dapat berbeda berdasarkan usia, riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan sebelumnya, dan pedoman yang berlaku.

3. Tidak Merokok

Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko perkembangan kanker serviks pada orang yang mengalami infeksi HPV risiko tinggi.

Karena itu, berhenti merokok tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan paru-paru dan jantung, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kanker.

4. Menggunakan Kondom

Kondom (pengaman atau pelindung) dapat membantu mengurangi risiko penularan HPV dan beberapa IMS (infeksi menular seksual) lainnya.

Namun, kondom (pengaman atau pelindung) tidak memberikan perlindungan 100% terhadap HPV karena virus dapat menginfeksi area kulit yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).

Apa yang Harus Dilakukan Jika Tes HPV Positif?

Jangan langsung panik.

Tes HPV positif bukan berarti Anda terkena kanker serviks.

Banyak infeksi HPV yang kemudian di kendalikan oleh sistem kekebalan tubuh.

Namun, hasil positif perlu di tindaklanjuti sesuai hasil pemeriksaan.

Dokter ahli dapat mempertimbangkan:

  • Jenis HPV yang di temukan.
  • Hasil Pap smear atau sitologi.
  • Riwayat pemeriksaan sebelumnya.
  • Usia.
  • Faktor risiko lainnya.
  • Pemeriksaan lanjutan seperti kolposkopi jika di perlukan.

Jika di temukan lesi prakanker, dokter ahli dapat memberikan penanganan yang sesuai.

Penanganan luka prakanker merupakan bagian penting dari pencegahan kanker serviks.

Apakah HPV Bisa Disembuhkan?

Saat ini belum ada obat-obatan khusus yang dapat menghilangkan HPV secara langsung dari tubuh. Namun, hal tersebut tidak berarti HPV tidak dapat di tangani.

Sistem kekebalan tubuh dapat mengendalikan sebagian besar infeksi HPV secara alami.

Sementara itu, dokter ahli dapat menangani penyakit atau perubahan sel yang di sebabkan HPV, seperti kutil kelamin, luka prakanker, dan kanker.

Jadi, fokus penanganan bukan sekadar mencari “obat-obatan HPV“, tetapi memastikan apakah infeksi menetap dan apakah sudah menyebabkan perubahan pada jaringan.

Apakah HPV Bisa Menyebabkan Kanker Selain Kanker Serviks?

Ya.

HPV risiko tinggi tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks.

Virus ini juga berhubungan dengan beberapa kanker lain, termasuk kanker:

  • Vulva.
  • Vagina.
  • Penis.
  • Anus.
  • Orofaring atau bagian belakang tenggorokan.

WHO mencatat HPV menyebabkan kanker pada pria maupun wanita.

Karena itu, pencegahan HPV tidak hanya penting bagi perempuan.

Mitos dan Fakta tentang HPV dan Kanker Serviks

Berikut mitos dan faktanya:

1. Mitos: HPV positif berarti pasti kanker serviks.

Fakta: Tidak. Sebagian besar infeksi HPV dapat hilang atau di kendalikan tubuh tanpa menyebabkan kanker.

2. Mitos: Tidak ada gejala berarti tidak ada HPV.

Fakta: HPV sering tidak menimbulkan gejala. Seseorang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya.

3. Mitos: Sudah vaksin HPV berarti tidak perlu Pap smear atau skrining.

Fakta: Vaksin mengurangi risiko infeksi HPV tertentu, tetapi tidak menggantikan skrining kanker serviks.

4. Mitos: HPV hanya menyerang perempuan.

Fakta: HPV dapat menginfeksi laki-laki dan perempuan serta berhubungan dengan berbagai penyakit, termasuk kutil kelamin dan beberapa jenis kanker.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter Ahli?

Pertimbangkan konsultasi apabila:

  • Hasil tes HPV Anda positif.
  • Hasil Pap smear menunjukkan kelainan.
  • Mengalami perdarahan setelah berhubungan seksual.
  • Mengalami perdarahan vagina yang tidak biasa.
  • Mengalami keputihan yang berubah secara menetap.
  • Memiliki kutil di area genital.
  • Memiliki riwayat IMS (infeksi menular seksual).
  • Belum pernah melakukan skrining kanker serviks sesuai rekomendasi.
  • Membutuhkan informasi mengenai vaksin HPV.

Jangan menunggu munculnya gejala kanker serviks untuk melakukan pemeriksaan.

Tahap prakanker sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga skrining menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Konsultasi HPV dan Kesehatan Reproduksi di Klinik Apollo Jakarta

Jika Anda memiliki hasil tes HPV positif, keluhan terkait HPV, kutil kelamin, perubahan keputihan, atau ingin mengetahui pemeriksaan yang sesuai, konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menentukan langkah berikutnya.

Dengan melakukan konsultasi, Anda dapat memperoleh evaluasi kondisi secara medis, arahan pemeriksaan yang sesuai, penjelasan hasil pemeriksaan, serta pilihan penanganan berdasarkan diagnosis, sekaligus mendapatkan layanan yang mengutamakan kenyamanan dan privasi pasien.

Kesimpulan

HPV dan kanker serviks memiliki hubungan yang sangat erat, terutama pada infeksi HPV risiko tinggi yang menetap dalam jangka panjang.

Namun, HPV positif tidak berarti seseorang pasti mengalami kanker.

Sebagian besar infeksi HPV dapat di kendalikan tubuh, sedangkan kanker serviks dapat dicegah melalui vaksinasi, skrining secara berkala, dan penanganan luka prakanker sedini mungkin. Jangan menunggu sampai muncul gejala.

Jika Anda memiliki hasil tes HPV positif atau ingin mengetahui risiko kanker serviks, konsultasikan kondisi Anda di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan evaluasi medis, pemeriksaan yang sesuai, penanganan berdasarkan kondisi, serta layanan yang menjaga privasi dan kenyamanan pasien.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.